Kenapa sich milih MBA?

Kuliah pagi ini dibuka dengan pertanyaan sederhana namun jawabannya butuh meditasi 😀

 

Pertanyaan yang disampaikan oleh Pak Hadi dulunya dekan IPMI  (http://ipmi.ac.id/)sekarang sedang mengajar sebagai dosen di MBA ITB.

 

Berbagai jawaban muncul berbeda-beda dari teman-teman sekelas saya, diantaranya :

1. Karena bos-bos sukses kuliahnya di MBA , oleh Pak Hadi dijawab “apa sih sebenarnya makna ikhlas? kalau ukurannya dunia, maka itu hanya akan berlangsung singkat, namun seiring berjalannya waktu kalian akan belajar tujuan dan motivasi bukan hanya bersifat keduniaan”

 

2. Saya sendiri menjawab karena panggilan hati (yelah :D), karena dulu tingkat pertama saya sudah memiliki cita-cita kuliah s2 nya di MBA, pengennya di Univ Tokyo tapi ga kesampaian, malah jodohnya ke ITB :D. Berdasarkan pencarian jati diri nanti kedepannya saya mau menjadi apa? dimulai dari ikut talents mapping, foto aura dan berbagai event tentang explorasi diri. Dan saya memiliki keinginan membuka usaha. Mau tau apa jawabannya pak Hadi?.

“Ya, karena ingin memiliki usaha maka MBA ini bisa jadi pilihan yang tepat”.

Lalu pertanyaan berlanjut lagi, kenapa sich memilih di ITB? bebrapa teman saya menjawab

1. Karena dijakarta macet

2. Karena ITB itu sebuah mantra yang bisa membuka pintu 😀 hehehe, karena kalau lulusan ITB seperti mudah untuk mengakses resource

3. Networking, banyak lulusan ITB adalah orang yang berkualitas dan ITB itu identik dengan lulusannya yang cerdas.

4. Balas dendam, karena ketika s1 tidak bisa masuk ke ITB, jadi dech S2 nya ke ITB, selain itu mau membandingkan kualitas lulusan dengan ayahnya yang ternyata lulusan kelas eksekutif di IPMI.

Saya baru tau bahwa ada IPMI yang ketika saya googling masuk ke websitenya, wow ternyata sistem edukasinya top dah 😀

Monggo yang mau melanjutkan kuliah lagi, silhakan dipilih jurusan dan universitas tujuannya. Kenapa memilih jurusan itu? dan kenapa harus di kampus tersebut ?

Sukses Terbesar Dalam Hidupku(LPDP)

 Salah satu syarat dokumen pandaftaran yang perlu disertakan ketika mendaftar ke LPDP, butuh waktu yang lama bagi saya untuk bisa menuliskan nya. Semoga bermanfaat 🙂

 

Kesuksesan terbesar dalam hidupku?

Sebenarnya sudah lama saya memasukkuan semua data untuk kelengkapan LPDP namun dibagian essai saya terhenti sejenak. Saya berhenti sejenak untuk kemudian melangkahkan kembali jemari merangkai kata menjadi sebuah essai. Sebuah essai yang menceritakan kesuksesan terbesar dalam hidupku.

Perjuangan yang sangat indah, karena  essai “sukses terbesar dalam hidupku” dari LPDP membuat saya berfikir ulang tentang hidup ini, bahasa kerennya re-engineering atau bahkan re-design hidup. Saya sangat berterimakasih dengan LPDP, dengan adanya essai ini saya terasa bercermin untuk bertanya kepada diri saya sendiri. “Apakah kriteria kesuksesan yang  selama ini saya pegang?”, “Apakah  kesuksesan sesungguhnya?”, renungku. Selama ini, parameter kesuksesan yang saya pegang  yaitu berupa hasil prestasi nyata ataupun suatu karya yang diapresiasi oleh banyak orang.

Saya akan coba bercerita saat saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Ketika saya SMA, pernah mengikuti lomba putra putri PKPP –lomba kepramukaan se-Kota Solo-. Saya mempunyai seorang pelatih. Beliaulah yang kemudian memperbaiki cara berfikir saya agar saya menjadi pribadi yang lebih baik. Masih teringat dengan jelas kata-kata beliau, “Isti, cobalah untuk berfikir sederhana, jangan terlalu jauh dahulu!”,”Lihatlah dengan dekat apa yang bisa kamu lakukan!”. Semenjak saat itu, saya menyadari bahwa benar apa yang beliau katakan.

Kemudian, pengalaman saya berlanjut pada sebuah kejadian di acara training kepempimpinan level 2 Kesaktuan Aksi Mahasiswa Muslim Imdonesia (KAMMI) Daerah BANDUNG. Saat itu, saya merupakan salah seorang dari 3 orang perwakilan daerah Bandung yang dikirim ke Cirebon untuk mengkuti pelatihan kepemimpinan di Cirebon. Di latihan kepemimpinan level dua ini, kami, peserta dibiasakan untuk menyampaikan makalah yang  sudah dibuat sebelumnya sebagai syarat pendaftaran peserta.  Beberapa orang dengan tema makalah yang sama, diminta untuk maju mempresentasikan makalahnya. Saya salah satu dari pihak perempuan yang berkesempatan menyampaikan hasil pemikiran saya, makalah. Peserta lainnya mencermati dengan seksama isi makalah yang saya sampaikan, hingga sampailah pada sesi tanya jawab. Pada saat sesi itulah, ada peserta lain yang menyampikan pendapatnya mengenai solusi untuk masalah di Indonesia. Sebuah ungkapan sederhana namun bagi saya sungguh sarat makna yaitu, “Boleh melangit, tetapi kaki tetap membumi”. Setelah mendengar kata-kata itu dan merefleksikan dengan keadaan diri saya. Saat itu saya menjadi tersadar bahwa saya selama ini masih cenderung melangit tapi kurang membumi. Maka, kemudian saya menjadi berfikir lebih realistis terhadap berbagai tawaran ideal yang ada.

Semenjak saat itu saya terus mencari parameter kesuksesan dalam diri saya, hingga beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang teman dari daerah lain. Dia mengatakan bahwa sukses itu sangat sederhana maknanya, cukup cari saja apa kekurangan dalam dirimu, itu adalah landasan keberhasilanmu. Saya terkesan dengan pribadinya yang sederhana, itu terungkap dari caranya memandang hidup ini, sangat sederhana dan simple. Ini yang saya cari selama ini, karena saya terkadang berfikir kurang realistis, itu penilaian beberapa orang kepada saya.

Dari hal tersebut, makna sukses sebenarnya bagi saya, bukan tentang sebuah prestasi, bukan pula tentang uang ataupun tentang pengakuan orang lain. Sukses menurut saya adalah ketika saya bisa berbuat benar untuk orang lain. Dan sukses terbesar dalam hidupku ketika apa yang saya ucapkan juga saya lakukan.

Saya selalu terkesan dengan orang yang konsisten antara ucapan dengan perbuatannya. Bagi  saya hal itu sangat luar biasa, saya menemukan kebahagian tersendiri dalam hati dengan melakukannya. Karena saya takut kalau saya mengucapkan sesuatu tapi saya tidak melakukannya, Allah akan membeci saya. Ibarat tong kosong nyaring bunyinya atau bahasa gaulnya “omdo” –omong doang-.  Karena setiap apa yang saya ucapkan akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat.

Dan pada akhirnya, menikmati kesuksesan terbesar tidak perlu dengan sebuah pengakuan besar atau menunggu momen yang besar, tetapi cukup menjaga antara ucapan dan perbuatan, maka saya selalu merasa sukses disetiap waktu. Bagi saya mengalahkan keinginan diri untuk selalu terlihat hebat lewat lisan itu sebuah kenikmatan. Sehingga saya merasa hidup ini selalu bahagia dan saya sangat bersyukur dengan hal tersebut. Menjaga ucapan dan perbuatan adalah perjuangan luar biasa bagi saya. Inilah perjuangan untuk meraih kesuksesan terbesar dalam hidup saya, konsisten antara ucapan dan perbuatan.

 

 

 

 

Ga enak Lulus Kuliah

hmm mungkin aneh kali ya kedengerannya? bukannya setiap orang selalu berfikir bahwa lulus kuliah itu menyenangkan dan enak. Lagi-lagi punya pemikiran yang bertolak belakang dengan orang-orang seperti biasanya.Orang aneh memang langka di didunia ini 😀

Sudah hampir satu tahun ini saya lulus kuliah,tentu banyak waktu luang dan bisa dimanfaatkan untuk aktivitas apapun.Bisa aktivitas positif bisa juga aktivitas negatif,

Namun kerinduan akan kesibukan dunia perkuliahan selalu menyergap hati ini. Benar-benar rindu saat harus menyelesaikan tugas sampai dini hari,benar-benar rindu saat mengerjakan tugas kelompok harus berkelana dari kost satu ke kost lainnya atau berkelana dari satu industri ke industri lainnya,benar-benar rindu praktikum bergadang hanya untuk menyelesaikan laporan praktikum,benar-benar rindu dengan semua hiruk pikuk mahasiswa.

Tak bisa dipungkiri ternyata saya sangat menyukai dunia pendidikan, maka dari itu untuk mengobati semua rasa rindu akan dunia perkuliahan,maka saya putuskan untuk melanjutkan S2.Ingin sekali menjadi profesor, karena prof akhwat masih sangat minim. Menuntut jenjang pendidikan tinggi bagi seorang wanita itu wajib, bukan untuk merasa lebih tinggi dari pasangannya. Tapi karena wujud kesadarannya bhwa dirinya akan menjadi madrasah pertama anak-anaknya, jika seorang wanita memiliki wawasan yang luas tentu anak-anaknya akan tumbuh dengan sangat baik.

Melanjutkan kuliah S2 itulah obat kerinduanku dengan hiruk pikuk kehidupan kampus. Tentu tak sembarangan kampus ku pilih dan tentu tak sembarangan jurusan ku labuhkan. Tak seperti kebanyakan orang melanjutkan S2 karena gengsi,tapi aku punya value tersendiri. Sepertinya jiwa ini mencintai belajar dan terus belajar, jiwa ini akan tersiksa jika berhenti belajar.

Kampus yang kupilih adalah kampus yang aman untuk agamaku dan memiliki etika tentunya dinegara yang diridhoi Orang tuaku. Setlah sekian lama menunggu ridho mereka,akhirnya di izinkan juga,tapi bukan negara tujuan awal. Ya saya nurut saja, wajar jika ortu seperti itu karena saya seorang wanita lha apa hub nya? begini bro, dalam etika jawa tabu kalau seorang perempuan pergi terlalu jauh. Alahmdulillah ortu saya tak terlalu menganut itu, buktinya saya dibiarkan merantau ke kota kembang. Walaupun sering saya baca kekhawatiran mereka,”tenanglah mam Allah yang akan menjagaku, doakan mawon setiap waktu supodos dados tiyang sukses” itu mantra penenang yang saya ucapkan ke ibu.

Jurusan yang kupilih juga bukan asal-asalan, kupilih yang sesuai dengan warna S1 ku teknik industri ya kemungkinan yang nyambung S2 nya teknik industri, MBA,Manajemen, Ekonomi Islam, Bisnis Islam. Jurusan yang bau-baunya manajemen atau bisnis “gue banget lah itu” hehe.

So siapapun yang mau melanjutkan kuliah, temukanlah strong why? harus melanjutkan kuliah, and then strong why memilih kampus, and then strong why memilih jurusan and the last strong why memilih negara tujuan. Jika kita memiliki alasan yang kuat, maka kita akan jauh lebih produktif dan mampu bertahan dari gempuran yang ada.

Selamat berjuang bro/sist yang mempersiapkan diri melanjutkan kuliah semoga menjadi pribadi bermanfaat dan memberikan kontribusi untuk kemajuan dan kemakmuran di Indonesia