Landasan Organisasi : Cinta Kami Berlandaskan CintaNya

Melanjutkan cerita sebelumnya tentang pelantikan “Organisasi Peradaban”. Kali ini kami ingin menyampaikan betapa indahnya dan menentramkan dunia pernikahan yang dibingkai dalam syariatNya serta cintaNya.

Tulisan ini lahir dari kesadaran begitu banyaknya orang yang membina biduk rumah tangga tanpa pemahaman islam, sehingga rumah yang seharusnya menjadi syurga malah berubah menjadi neraka. Semoga Allah menjauhkan kami dari sifat pamer, mengkomporin, menyakiti hati orang lain, maupun menggurui, karena pernikahan kami masih seumur jagung. Hanya sedikit hikmah yang ingin kami sampaikan. Terutama bagi yang sedang merencanakan pernikahan bahkan berbagi dengan yang sudah menikah sekalipun.

Rumah yang menjadi pondasi paling penting untuk bangsa ini menjadi maju dan besar, tetapi ternyata banyak kisah perceraian dan perseteruan bermula dari rumah. Ini menunjukkan tak terbangunnya rasa sakinah, mawaddah dan rahmah sebagai perwujudan rumahku syurgaku. Maka, tak heran, walaupun Indonesia memiliki jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, tapi moral bangsanya carut marut tak karuan, mencoreng keindahan Islam yang mulia. Semoga kita bisa bersama sama memperbaiki kondisi ini.

Merencanakan pernikahan dan impian  keluarga yang akan dibangun nantinya bukan muncul dalam hitungan sekejab. Ini visi jangka panjang hingga ke akhirat kelak, maka persiapannya pun tak bisa sembarangan. Butuh persiapan secara matang, baik secara pemahaman, mental, finansial dan urgensinya. Dan dibutuhkan pula sikap mau belajar, mau memperbaiki diri. Ini pun salah satu kuncinya. Bayangkan, sisa hidup kita akan dihabiskan dengan orang seperti apa? Bayangkan juga, dalam situasi dan kondisi seperti apa kita akan hidup nantinya? Kita harus persiapkan dengan segala kemungkinannya. Ini asyiknya! Seberapa jauh kita akan berikhtiar, tawakkal, berdo’a akan hal yang telah Allah tuliskan di Lauhul Mahfudz.

Yahh mungkin ini yang membuat beberapa orang takut melangkah untuk menikah walaupun sebenarnya sudah mampu, takut dengan siapa kita akan menjalani sisa hidup kita.  Kamudian, karena tak memahaminya, melampiaskan dengan cara yang menodai kesucian pernikahan itu yaitu dengan pacaran. Ya iyalah ! Bagaimana mau meraih sakinah mawaddah dan rahmah, kalau cara dari awal untuk menggapainya sudah dipenuhi dengan dosa. Wajarlah ketika menikah akan banyak perselisihan.

Hal yang paling penting untuk ditanamkan dan dipegang adalah, sebenarnya untuk apa menikah? hanya untuk menjaga diri? menyempurnakan setengah agama? itu tidak salah, tapi menurut saya dan suami ada yang lebih tinggi lagi. Kami sepakat bahwa menikah adalah perkara ibadah kepada Allah. “Meletakkan Allah di atas segalanya dan bersedia memurnikan segala sesuatu untuk Allah” menjadi landasan kami menjalankan perahu di lautan kehidupan. Bukan pekerjaan yang mudah, namun bukan pekerjaan yang tidak mungkin juga. Ini pekerjaan yang menantang!

Tentu saja menantang, ketika masih single melakukan sesuatu untuk Allah itu sesuatu yang lebih mudah, karena hatinya belum terisi dengan yang lainnya. But! setelah menikah itu berbeda lagi, bagaimana memposisikan cinta kepada pasangannya tanpa sedikitpun mengurangi cinta kepada Allah bahkan semakin menambah cinta kepadaNya adalah pekerjaan yang menyenangkan. Jangan sampai posisi Allah dihati tergeser atau tergantikan dengan posisi pasangan, hmm semua itu butuh latihan dan usaha tak kenal lelah.

Diketemukan dengan belahan jiwa dan teman mengarungi kehidupan, tentu hal yang didambakan semua orang. Ketika cinta dengan lawan jenis menjadi halal bahkan berpahala itulah indahnya pernikahan, namun tak sedikit pasangan yang terbuai dengan kenikmatan cinta kepada pasangannya. Sehingga cinta kepada Sang pemberi cinta luntur dari hari ke hari, sungguh merugilah. Ibadahnya menurun, aktifitas penuh kebaikan berkurang atau terlalu melarang pasangannya untuk aktif ini itu. Hey, sadar donk! pasangan itu hanya patner. Teman, ingatlah! dia bukan milikmu, dia milikNya. Tak pantaslah mengekang potensinya.

Membangun rumah tangga berlandaskan cintaNya, saling mengingatkan ketaqwaan kepadaNya dan saling menegur karena ada ibadah yang kendur, karena rumah tangga adalah sekolah kehidupan di sepanjang usia kami.

Sahabat, kita akan bertemu dengan pasangan kita yang tidak sempurna, tapi kita akan belajar mencintainya dengan sempurna.

Alhamdulillah akhirnya menulis lagi setelah moment penting dalam hidup kami,, ploong rasanya kembali menuliskan sesuatu. Happy reading kawan 🙂 Merasakan sakinah setelah menikah memang benar kata Rasulullah bahwa keluarga itu syurga dunia 🙂

Semoga bermanfaat “Cinta tak akan berarti apa-apa ketika tak membawa cintaNya” 🙂

Iklan

Pernikahanku: Upacara Pelantikan Kepengurusan “Organisasi Peradaban”

Gambar

Judulnya cukup mengundang pertanyaan sepertinya. Ada frasa yang jarang kita dengar. Organisasi Peradaban. Ya…tepatnya hari Sabtu 13 April 2013 pukul 09.00 telah diresmikan organisasi baru, dengan masa jabatan seumur hidup dan tanpa open rekruitasi. Organisasi yang menjadi babak baru kehidupan dua insan manusia, saya dan suami.

Ya,,organisasi peradaban, kata-kata ini kami pilih untuk memproklamirkan kuasa Allah dalam menjodohkan kami berdua.

“Saat dua hati berjanji, tuk arungi hidup dijalanNya.

Allah kan berkahi mereka kala dalam doa, kala dalam asa.”

(Seismic, Ketika Dua Hati Menyatu)

Butuh waktu bagi saya untuk bisa menuliskan dan menyampaikan kisah ini. Banyak hikmah yang Allah titipkan sehingga menjadi amanah bagi kami untuk menyampaikan kembali kepada saudaraku di manapun berada.

Menikah merupakan setengah dari agama, sungguh besar porsinya dalam agama Islam.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,  ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi)

Secara umum, dua hal yang dapat merusak agama kita, kemaluan dan perut. Kemaluan yang mengantarkan pada zina, sedangkan perut bersifat serakah. Dan ketika menikah, kita telah menjaga diri dari salah satunya, yaitu kemaluan kita. Setengah agama kita telah terjaga, tinggal sisanya.

Menikah membutuhkan persiapan yang panjang. Mempersiapkan diri sebaik-baiknya dari jauh-jauh tahun bisa menjadi awal yang sangat bagus. Karena menikah bukan keputusan sesaat dan bukan untuk keinginan sementara. Menikah untuk beribadah padaNya, menikah untuk bertemu kembali di syurgaNya, menikah untuk menggabungkan dua keluarga besar yang berbeda, dan menikah untuk membangun Organisasi Peradaban. Maka selagi masih ada waktu, mari kita banyak-banyak belajar tentang Islam dan belajar melatih diri memiliki akhlaq yang indah. Yaa.. ini muncul dari membaca beberapa buku dan berbincang-bincang dengan beberapa orang.

Ah pasti sudah tak sabar mau tau ceritanya ya? baiklah baiklah mari kita mulai mengikuti kisahnya dengan membaca basmallah. Bismillahirrahmaanirrahiim.

***

Saya mulai dari awal kami berproses. Proses yang cukup singkat, sekitar 4 pekan sejak awal menerima biodata suami hingga proses akad nikah. “Wah! Cepet bener Mbak!” Yups, dan kami pun hampir tak percaya dengan durasi yang telah Allah tetapkan ini. Kata suami,” Sangat terasa sekali, Tangan Allah sangat dekat dalam skenario ini!”

Mekanisme ini merupakan hal baru di keluarga kami berdua, karena kami menikah tanpa diawali pacaran sebelumnya dan dalam tempo yang singkat. Ya, tanpa pacaran! Jangankan pacaran, sebelumnya, saya kenal ikhwannya pun tidak. Alhamdulillah, Allah menjaga kami. “Bisa juga ternyata ya!”, gumam saya terheran heran.

“Trus Mbak, orang tua nrima gitu aja? Masak sih sesimpel itu? Emang ga ada perdebatan dengan orang tua ya?” Alhamdulillah kami dari jauh-jauh tahun sudah mensosialisasikan ke orang tua masing masing perihal proses menikah yang syar’i. Jadi, ketika tiba waktunya tak ada halangan yang memberatkan dari keluarga.

Salah satu bentuk ikhtiar saya yang lain adalah dengan berdo’a. Sebuah doa yang selalu saya panjatkan disetiap sholat wajib, sholat hajat, sholat tahajud dan sholat dhuha, “Ya Allah berikanlah jodoh yang baik agamanya, baik dunianya, baik akhiratnya yang mencintai dakwah ini dan mencintai Engkau”, hanya optimislah yang membuat saya bertahan untuk terus memohon seperti ini. Karena saya berfikir menikah itu harus memperbesar manfaat ke lingkungan masyarakat dan membawa visi menghujam sampai ke akhirat.

Mundur sebentar ya… 🙂 Awal tahun 2013 sebenarnya bisa dibilang saya sudah pasrah dan tak terlalu berharap bisa menikah tahun ini, maka saya sibukkan diri dengan mempersiapkan kuliah S2 ke Malaysia. Lebih baik menyalurkan energi ke hal positif yang jauh lebih bermanfaat dan saya tenggelam dalam kesibukan mempersiapkan segala dokumen kuliah. Namun ternyata Allah berkehendak lain, di saat sibuk ngurus passport ternyata ada kabar dari murabbi, “Istiqq…ada ikhwan yang nerima proposal, gimana?” Saya pun kaget mendengar kabar dari murabbi.

Point 1: Saya sangat ingin menjalankan proses pernikahan yang terjaga dan sesuai syari’at. Saya percayakan prosesnya kepada murobbi-guru ngaji- saya. Dan peran fasilitator tersebut bukan peran yang mudah, saya sangat yakin, murabbi saya sudah melakukan ikhtiar yang maksimal dalam memilihkan ikhwan yang akan berproses dengan saya. Dan tak ada peran peran syar’i yang murabbi saya gantikan dalam proses ini, seperti yang beberapa orang khawatirkan. Kenapa sih harus lewat murabbi? Murabbi kok kayak wali aja?, dll. Karena murabbi membantu menjaga prosesnya agar tetap syar’i. Dan saya sangat terbantu dengan itu. 🙂

***

[sebelum mendapat info dari Murabbi] Sempat menyerah dengan kriteria yang saya buat, dalam hati menyeletuk “apa ada ikhwan seperti yang ku minta?” akhirnya saya coba turunkan kriteria saya, asal beliau tarbiyah dan memiliki ma’isyah serta berani menghadapi orang tua maka tak ada alasan menolaknya. Udah menurunkan standar tapi belum juga datang. Ya, pasrah itulah jalan terbaik.

Hari itu tanggal 13 Maret 2013. Sekitar habis dhuhur saya dapat info, bahwa ada ikhwan yang menerima proposal saya,  maka sorenya sekitar jam 17 baru saya buka biodata sang ikhwan. Kaget, karena tak kenal dengan ikhwan di biodata tersebut. Walaupuan kami satu kampus tapi seingat saya belum pernah berinteraksi dengan beliau. Atau mungkin karena karakter saya yang cuek dengan ikhwan, membuat lupa kalau pernah berinteraksi dengan beliau. “Emang ada ya ikhwan namanya WNS di kampus?”, sempat saya nyletuk seperti itu.

Ternyata suami pun demikian. Pasca akad, beliau sampaikan kalo beliau belum mengenal saya sebelumnya. “Ketemu sih pernah, tapi nggak sampe mengenal. Sebatas tau, ada nama Istiqomah Nur Latifah di kampus IT Telkom. Mungkin ini cara Allah menjaga prosesnya.” Kata suami.

Singkat cerita, akhirnya dipilihlah tanggal 13 April 2013, hari Sabtu, sebagai hari bersejarah dalam hidup saya. Ya, pada tanggal itu kami melangsungkan akad. Tepat sebulan setelah kami saling bertukar biodata. Dan, mengapa hari itu sebagai hari bersejarah buat saya? Karena pada hari itu, saya yang tadinya serba bebas, setelah diucapkannya janji,  masuklah seorang ikhwan yang punya hak mutlak untuk ‘menginterfensi’ hidup saya. Kami terikat dalam janji yang suci, dalam mitsaqan ghaliza. Pada hari itu pula, hari Sabtu adalah hari dimana saya dilahirkan ke dunia tepat jam 09.00. #Hmmm…speechless

“Trus, gmana dengan keluarga Mbak?” Seperti yang sudah saya sampaikan di atas, alhamdulillah, kalo dari sisi suami, sudah menjelaskan sebelumnya tentang proses pernikahan yang syar’i kepada keluarganya. Dan, orang tua suami cukup kaget, kenapa secepat ini. Kalau dari keluarga saya malah berharap dipercepat karena kalau sudah cocok untuk apa di lama-lama malah menimbulkan banyak mudharatnya. Alhamdulillah semuanya diperlancar, disertai dengan penjelasan penjelasan ke orang tua.

Point 2: Mulai merancang pernikahan dan komunikasikan budaya menikah yang sesuai syari’at Islam kepada keluarga jauh-jauh hari.

***

Setalah akad, saya masih kaku. Ya, sekali lagi karena tiba-tiba ada seseorang yang dulunya bukan siapa-siapa sekarang memiliki hak atas hidupku. Alhamdulillah, dengan singkat, sikap kaku pun berangsur berganti dengan santai. Hebat ya! Rasanya, Allah melakukan training langsung kepada kami, agar kami bisa langsung nyambung. Saat itu, saya teringat pesan seorang teman, “Salah satu bentuk syukur telah dinikahkan oleh Allah adalah dengan secepat mungkin merubah sikap dengan seseorang yang sudah halal untuk kita.”

Alhamdulillah, setelah acara makan-makan sederhana di rumah, kami semakin akrab saja. Mungkin karna pembawaan karakter kami, jadi baru beberapa jam mengenalnya seolah kami sudah sangat kenal dalam waktu lama. Sungguh besar kuasa Allah.

Point 3: Allah yang punya skenario. Allah yang memiliki setiap detail hidup manusia. Dalam pengalaman saya ini, saya tidak mengenal ikhwan yang saya nikahi sebelumnya. Dan Allah lah yang mempermudah proses perkenalan kami pasca akad. Begitu singkat. Kemudian kami pun mampu saling membaur, satu sama lain. Bercanda ringan, hampir tidak ada ke-garing-an saat itu, semuanya renyah! Alhamdulillah.

***

Kehidupan setelah menikah ternyata jauh lebih indah, menenangkan dan menentramkan. Banyak mimpi yang kami rajut bersama, menyadari bahwa semuanya butuh bahan bakar untuk menjalankan. Maka kami punya kesepakatan amalan yaumi tentang tilawah, al ma’tsurat, tahajud, dhuha, baca buku, hafalan tentu dilengkapin iqob kalau ada yang tak sesuai target. 🙂

Nikmatnya pacaran setelah menikah memberikan banyak keberkahan dan kebarakahan dalam kehidupan kami. Kami pun tak melewatkan momen ini, pacaran yang bernilai ibadah adalah pacaran setelah menikah dengan pasangan yang telah Allah halalkan buat kita. Alhamdulillah Allah memberikan lebih dari yang kami minta terkait pasangan.

Inilah keluarga kecil kami, inilah organisasi peradaban kami, yang menitipkan harapan besar kepada sang Maha Besar.

“Ini bukanlah persiapan dan cita-cita biasa, kalau hanya untuk memenuhi setengahnya itu masih terlalu kecil. Maka seharusnya persiapan dan cita-citamu jauh lebih melambung yaitu demi Dia yang selalu memberikan cintaNya walaupun kita sering melupakannya”

Semoga bisa menjadi hikmah dan inspirasi bagi yang membacanya, dan kami akan sangat senang jika pembaca ikut mendo’akan suksesnya organisasi yang akan kami jalankan. Mohon maaf jika sebelumnya ada ucapan, kata-kata dan perilaku kami yang kurang berkenan di hati pembaca.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Q.S. Ar Ruum: 21)

 

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. An Nuur: 32)

 

“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Q.S. Ath Thalaaq: 2-3)

Memaknai Arti Ikhlas

Hari ini matahari bersinar dengan hangatnya, sinarnya menembus setiap diding hatimu sehingga mampu memberikan kehangatan di dinginnya jiwa. Untuk merenungi kembali perjalanan kehidupan yang panjang, tapi sebenarnya sangatlah singkat bagi orang yang menyadarinya. Karena bagi orang yang berfikir waktu ibarat pedang, siap menebas siapapun tanpa pandang bulu, jika tak mampu menggunakan waktunya dengan sebaik-baik mungkin.

Sahabat sejenak mari kita ingat kembali sudah berapa lama hidup didunia, ingatlah kembali dimana masa-masa kecil nan penuh riang dulu, ingatlah masa-masa sekolah berseragam merah putih, ingatlah ketika menapaki jenjang pendidikan putih abu-abu, ingatlah ketika bergelut didunia kampus dan ingatlah saat membangun biduk rumah tangga. Sudah berapa tahunkah semua kejadian itu berlalu? Renungi kembali kita yang sekarang berdiri dengan puluhan tahun lalu “Apakah masih pribadi yang sama? Tanpa ada perbaikan sedikitpun atau malah jauh lebih buruk dari beberapa tahun yang lalu?”. Sahabat waktu berlalu begitu cepat dan sangat cepat jika engkau menyadarinya. Begitulah kehidupan kawan dia tak pernah meminta izin kepada kita untuk berjalan, suka atau tidak suka kehidupan ini terus berjalan.

Sudahkah kita memaknai  semua kejadian yang telah terlewati? Masihkah ada jiwa yang diam-diam terluka karena perilaku kita? Masihkah ada jiwa yang kecewa dengan kita?. Sungguh sahabat hidup ini teramat sangat singkat, sudahkah kita mempersiapkan sebaik-baik bekal untuk kembali ke tempat hidup yang kekal.

Memahami kehidupan ini sebenarnya cukup ketika kita memahami makna ikhlas dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, maka apapun skenario yang Allah berikan hati kita selalu menerimanya dengan gembira. Segala langit dan bumi milik Allah, terserah Allah mau melakukan apa terhadap ciptaanNya. Sungguh sangat tenang dan bahagia ketika kita mempercayakan semua impian-impian kita kepada Allah. Biarlah Allah nanti yang mengoreksi impian kita dan biarlah Allah yang mewujudkannya di waktu terbaik menurut Allah.

Mencoba memahami kembali makna ikhlas di buku “Quantum Ikhlas”, ternyata kita perlu waktu disepanjang hidup untuk memahaminya. Ada satu kata-kata yang bagus yang saya fikir itu akan memudahkan kita memahami makna ikhlas agar hidup kita bahagia.

Arti Quantum Ikhlas

Ketika manusia benar-benar ikhlas, saat itulah do’a atau niatnya “berjabat tangan” melakukan kolaborasi dengan energy vibrasi quanta. Sehingga, melalui mekanisme kuantum yang tak terlihat, kekuatan Tuhanlah yang sebenarnya sedang bekerja. Jika sudah demikian, siapakah yang mampu menghalangi-Nya?

Seperti diriwayatkan oleh Imam Ja’far dalam kitab Al Bihar: “Apabila seorang hamba berkata, ‘Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah’ maka Allah menjawab , ‘Hai para malaikat-Ku, hamba0Ku telah berpasrah diri, maka bantulah dia, tolonglah dia, dan sampaikan (penuhi) hajatnya”

Dibuku ini dibahas dengan bahasa yang mudah dimengerti bagaimana kita memahami makna ikhlas dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Merasa hidup merana, tersiksa atau menjadi orang paling menyedihkan didunia. Atau mendapati kondisi kehidupan yang minim financial, lahir ditengah keluarga yang penuh keributan, dan merasa banyak impiannya belum terkabul. Secara manusia merasa terbebani dengan semua kondisi itu wajar atau merasa malu karena mendengar opini orang diluar tentang diri kita.

Hmm… biarkan saja orang berkata apa tentang kita tapi sehebat apapun mereka mencoba menjatuhkan mental kita itu tetap tak ada gunanya. Mereka sama-sama makan nasi, sama-sama butuh tidur dan banyak kesamaan lainnya, mereka tak bisa memberikan mudhorat dalam hidup kita so menghadapi orang seperti itu seharusnya kita tenang saja. Apapun yang diperbuat seseorang akan kembali pada pelakunya.

Sahabat… jika rasa ikhlas dan ridho menerima semua apapun yang Allah berikan kepada kita, jika mempercayakan kehidupan kita kepada Allah maka yakinlah Allah akan memberikan kebahagian dalam hidupmu dan PERCAYALAH Allah akan memberikan kejutan dalam hidupMu sehingga engkau merasa orang paling beruntung sedunia.

Ridha dengan semua keputusan Allah bukan berarti kita berleha-leha dan bersantai-santai dengan kehidupan ini.

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.  Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”

 (Surat Ar Ra’du:11).

Jadi tetaplah berikhtiar semaksimal mungkin dengan cara yang baik, tetaplah optimis dengan usahamu dan sinergikan dengan keikhlasan semua keputusan Allah. Apapun yang diberikannya adalah skenario terbaik bagi kita. Tetaplah tenang menghadapi kehidupan ini, tenanglah mewujudkan jutaan MIMPI. Ibarat anak panah yang melesat dengan tenang  menuju sasaran, jangan seperti banteng yang mengamuk menyeruduk kesana kemari tanpa arah makanya impiannya pun tak terarah dengan baik. Jika sudah mempercayakan semua kehidupan kepada Allah, maka iringilah dengan kesabaran. Sabar menunggu jawaban dari Allah melalui setiap soal kehidupan yang diberikan disetiap waktu dan sabar menanti hasilnya dari Allah. Sabar untuk terus menyempurnakan ikhtiar. Perpaduan keduanya ikhlas dan kesabaran akan memunculkan kebiasaan untuk selalu berfikir positif (khunudzon) dengan semua kejadian yang diterima. Dengan seperti itu kita akan memiliki hati seluas jagat raya ini, apapun ujian hidup yang datang terasa kecil sehingga masalah rumit  mudah diselesaikan dengan sederhana. Berbeda dengan hati yang sempit, diberi ujian yang sederhana akan memandangnya sangat rumit sehingga sepanjang hidupnya hanya berjibaku dengan hal-hal sepele.

Setiap orang berhak bermimpi apapun

Setiap orang bebas menentukan hidupnya  akan seperti apa

Setiap orang bebas memilih bermanfaat melalui ilmu apapun

Apapun itu pilihannya milikilah pemahaman yang benar tentang kehidupan ini, sehingga akan mengantarkanmu menjadi manusia bertaqwa dan dicintai penduduk Langit dengan berbagai kontribusi yang engku berikan. Ketahuilah HANYA ALLAH yang benar-benar Menyayangimu dan Merawatmu paling baik dari siapapun . Nikmatilah hidupmu yang begitu Indah 🙂

—————————————————————————————–

Sahabat saya percaya ANDA semua memiliki kisah hidup yang LUAR BIASA, bukankah itu Amanah ilmu dari Allah juga. Maka mulailah membagikannya kepada saudara yang lainnya. Karena saya juga ingin mendapatkan ILMU kehidupan dari Sahabat semuanya 🙂 Mari Berbagi dengan ILMU 🙂

“Carilah ILMU dengan membacanya dan IKATLAH ILMU dengan menuliskannya”

MENULISLAH MENULIS DAN MENULIS

Tak Usah Kau Pedulikan akan menjadi seperti apa, Mulailah Maka indahnya untain kata-katamu akan terangkai seiring berjalannya waktu. Bukankah begitu INDAH ketika raga ini tak lagi di Bumi tapi orang masih merasa dekat dengan kita melalui TULISAN Kita.

Saya tunggu tulisannya call  me or mention me or send me email hasil tulisan sahabat semua 🙂

Dengan senang hati saya membacanya.

Salam SUKSES