Pernikahanku: Upacara Pelantikan Kepengurusan “Organisasi Peradaban”

Gambar

Judulnya cukup mengundang pertanyaan sepertinya. Ada frasa yang jarang kita dengar. Organisasi Peradaban. Ya…tepatnya hari Sabtu 13 April 2013 pukul 09.00 telah diresmikan organisasi baru, dengan masa jabatan seumur hidup dan tanpa open rekruitasi. Organisasi yang menjadi babak baru kehidupan dua insan manusia, saya dan suami.

Ya,,organisasi peradaban, kata-kata ini kami pilih untuk memproklamirkan kuasa Allah dalam menjodohkan kami berdua.

“Saat dua hati berjanji, tuk arungi hidup dijalanNya.

Allah kan berkahi mereka kala dalam doa, kala dalam asa.”

(Seismic, Ketika Dua Hati Menyatu)

Butuh waktu bagi saya untuk bisa menuliskan dan menyampaikan kisah ini. Banyak hikmah yang Allah titipkan sehingga menjadi amanah bagi kami untuk menyampaikan kembali kepada saudaraku di manapun berada.

Menikah merupakan setengah dari agama, sungguh besar porsinya dalam agama Islam.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,  ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi)

Secara umum, dua hal yang dapat merusak agama kita, kemaluan dan perut. Kemaluan yang mengantarkan pada zina, sedangkan perut bersifat serakah. Dan ketika menikah, kita telah menjaga diri dari salah satunya, yaitu kemaluan kita. Setengah agama kita telah terjaga, tinggal sisanya.

Menikah membutuhkan persiapan yang panjang. Mempersiapkan diri sebaik-baiknya dari jauh-jauh tahun bisa menjadi awal yang sangat bagus. Karena menikah bukan keputusan sesaat dan bukan untuk keinginan sementara. Menikah untuk beribadah padaNya, menikah untuk bertemu kembali di syurgaNya, menikah untuk menggabungkan dua keluarga besar yang berbeda, dan menikah untuk membangun Organisasi Peradaban. Maka selagi masih ada waktu, mari kita banyak-banyak belajar tentang Islam dan belajar melatih diri memiliki akhlaq yang indah. Yaa.. ini muncul dari membaca beberapa buku dan berbincang-bincang dengan beberapa orang.

Ah pasti sudah tak sabar mau tau ceritanya ya? baiklah baiklah mari kita mulai mengikuti kisahnya dengan membaca basmallah. Bismillahirrahmaanirrahiim.

***

Saya mulai dari awal kami berproses. Proses yang cukup singkat, sekitar 4 pekan sejak awal menerima biodata suami hingga proses akad nikah. “Wah! Cepet bener Mbak!” Yups, dan kami pun hampir tak percaya dengan durasi yang telah Allah tetapkan ini. Kata suami,” Sangat terasa sekali, Tangan Allah sangat dekat dalam skenario ini!”

Mekanisme ini merupakan hal baru di keluarga kami berdua, karena kami menikah tanpa diawali pacaran sebelumnya dan dalam tempo yang singkat. Ya, tanpa pacaran! Jangankan pacaran, sebelumnya, saya kenal ikhwannya pun tidak. Alhamdulillah, Allah menjaga kami. “Bisa juga ternyata ya!”, gumam saya terheran heran.

“Trus Mbak, orang tua nrima gitu aja? Masak sih sesimpel itu? Emang ga ada perdebatan dengan orang tua ya?” Alhamdulillah kami dari jauh-jauh tahun sudah mensosialisasikan ke orang tua masing masing perihal proses menikah yang syar’i. Jadi, ketika tiba waktunya tak ada halangan yang memberatkan dari keluarga.

Salah satu bentuk ikhtiar saya yang lain adalah dengan berdo’a. Sebuah doa yang selalu saya panjatkan disetiap sholat wajib, sholat hajat, sholat tahajud dan sholat dhuha, “Ya Allah berikanlah jodoh yang baik agamanya, baik dunianya, baik akhiratnya yang mencintai dakwah ini dan mencintai Engkau”, hanya optimislah yang membuat saya bertahan untuk terus memohon seperti ini. Karena saya berfikir menikah itu harus memperbesar manfaat ke lingkungan masyarakat dan membawa visi menghujam sampai ke akhirat.

Mundur sebentar ya… 🙂 Awal tahun 2013 sebenarnya bisa dibilang saya sudah pasrah dan tak terlalu berharap bisa menikah tahun ini, maka saya sibukkan diri dengan mempersiapkan kuliah S2 ke Malaysia. Lebih baik menyalurkan energi ke hal positif yang jauh lebih bermanfaat dan saya tenggelam dalam kesibukan mempersiapkan segala dokumen kuliah. Namun ternyata Allah berkehendak lain, di saat sibuk ngurus passport ternyata ada kabar dari murabbi, “Istiqq…ada ikhwan yang nerima proposal, gimana?” Saya pun kaget mendengar kabar dari murabbi.

Point 1: Saya sangat ingin menjalankan proses pernikahan yang terjaga dan sesuai syari’at. Saya percayakan prosesnya kepada murobbi-guru ngaji- saya. Dan peran fasilitator tersebut bukan peran yang mudah, saya sangat yakin, murabbi saya sudah melakukan ikhtiar yang maksimal dalam memilihkan ikhwan yang akan berproses dengan saya. Dan tak ada peran peran syar’i yang murabbi saya gantikan dalam proses ini, seperti yang beberapa orang khawatirkan. Kenapa sih harus lewat murabbi? Murabbi kok kayak wali aja?, dll. Karena murabbi membantu menjaga prosesnya agar tetap syar’i. Dan saya sangat terbantu dengan itu. 🙂

***

[sebelum mendapat info dari Murabbi] Sempat menyerah dengan kriteria yang saya buat, dalam hati menyeletuk “apa ada ikhwan seperti yang ku minta?” akhirnya saya coba turunkan kriteria saya, asal beliau tarbiyah dan memiliki ma’isyah serta berani menghadapi orang tua maka tak ada alasan menolaknya. Udah menurunkan standar tapi belum juga datang. Ya, pasrah itulah jalan terbaik.

Hari itu tanggal 13 Maret 2013. Sekitar habis dhuhur saya dapat info, bahwa ada ikhwan yang menerima proposal saya,  maka sorenya sekitar jam 17 baru saya buka biodata sang ikhwan. Kaget, karena tak kenal dengan ikhwan di biodata tersebut. Walaupuan kami satu kampus tapi seingat saya belum pernah berinteraksi dengan beliau. Atau mungkin karena karakter saya yang cuek dengan ikhwan, membuat lupa kalau pernah berinteraksi dengan beliau. “Emang ada ya ikhwan namanya WNS di kampus?”, sempat saya nyletuk seperti itu.

Ternyata suami pun demikian. Pasca akad, beliau sampaikan kalo beliau belum mengenal saya sebelumnya. “Ketemu sih pernah, tapi nggak sampe mengenal. Sebatas tau, ada nama Istiqomah Nur Latifah di kampus IT Telkom. Mungkin ini cara Allah menjaga prosesnya.” Kata suami.

Singkat cerita, akhirnya dipilihlah tanggal 13 April 2013, hari Sabtu, sebagai hari bersejarah dalam hidup saya. Ya, pada tanggal itu kami melangsungkan akad. Tepat sebulan setelah kami saling bertukar biodata. Dan, mengapa hari itu sebagai hari bersejarah buat saya? Karena pada hari itu, saya yang tadinya serba bebas, setelah diucapkannya janji,  masuklah seorang ikhwan yang punya hak mutlak untuk ‘menginterfensi’ hidup saya. Kami terikat dalam janji yang suci, dalam mitsaqan ghaliza. Pada hari itu pula, hari Sabtu adalah hari dimana saya dilahirkan ke dunia tepat jam 09.00. #Hmmm…speechless

“Trus, gmana dengan keluarga Mbak?” Seperti yang sudah saya sampaikan di atas, alhamdulillah, kalo dari sisi suami, sudah menjelaskan sebelumnya tentang proses pernikahan yang syar’i kepada keluarganya. Dan, orang tua suami cukup kaget, kenapa secepat ini. Kalau dari keluarga saya malah berharap dipercepat karena kalau sudah cocok untuk apa di lama-lama malah menimbulkan banyak mudharatnya. Alhamdulillah semuanya diperlancar, disertai dengan penjelasan penjelasan ke orang tua.

Point 2: Mulai merancang pernikahan dan komunikasikan budaya menikah yang sesuai syari’at Islam kepada keluarga jauh-jauh hari.

***

Setalah akad, saya masih kaku. Ya, sekali lagi karena tiba-tiba ada seseorang yang dulunya bukan siapa-siapa sekarang memiliki hak atas hidupku. Alhamdulillah, dengan singkat, sikap kaku pun berangsur berganti dengan santai. Hebat ya! Rasanya, Allah melakukan training langsung kepada kami, agar kami bisa langsung nyambung. Saat itu, saya teringat pesan seorang teman, “Salah satu bentuk syukur telah dinikahkan oleh Allah adalah dengan secepat mungkin merubah sikap dengan seseorang yang sudah halal untuk kita.”

Alhamdulillah, setelah acara makan-makan sederhana di rumah, kami semakin akrab saja. Mungkin karna pembawaan karakter kami, jadi baru beberapa jam mengenalnya seolah kami sudah sangat kenal dalam waktu lama. Sungguh besar kuasa Allah.

Point 3: Allah yang punya skenario. Allah yang memiliki setiap detail hidup manusia. Dalam pengalaman saya ini, saya tidak mengenal ikhwan yang saya nikahi sebelumnya. Dan Allah lah yang mempermudah proses perkenalan kami pasca akad. Begitu singkat. Kemudian kami pun mampu saling membaur, satu sama lain. Bercanda ringan, hampir tidak ada ke-garing-an saat itu, semuanya renyah! Alhamdulillah.

***

Kehidupan setelah menikah ternyata jauh lebih indah, menenangkan dan menentramkan. Banyak mimpi yang kami rajut bersama, menyadari bahwa semuanya butuh bahan bakar untuk menjalankan. Maka kami punya kesepakatan amalan yaumi tentang tilawah, al ma’tsurat, tahajud, dhuha, baca buku, hafalan tentu dilengkapin iqob kalau ada yang tak sesuai target. 🙂

Nikmatnya pacaran setelah menikah memberikan banyak keberkahan dan kebarakahan dalam kehidupan kami. Kami pun tak melewatkan momen ini, pacaran yang bernilai ibadah adalah pacaran setelah menikah dengan pasangan yang telah Allah halalkan buat kita. Alhamdulillah Allah memberikan lebih dari yang kami minta terkait pasangan.

Inilah keluarga kecil kami, inilah organisasi peradaban kami, yang menitipkan harapan besar kepada sang Maha Besar.

“Ini bukanlah persiapan dan cita-cita biasa, kalau hanya untuk memenuhi setengahnya itu masih terlalu kecil. Maka seharusnya persiapan dan cita-citamu jauh lebih melambung yaitu demi Dia yang selalu memberikan cintaNya walaupun kita sering melupakannya”

Semoga bisa menjadi hikmah dan inspirasi bagi yang membacanya, dan kami akan sangat senang jika pembaca ikut mendo’akan suksesnya organisasi yang akan kami jalankan. Mohon maaf jika sebelumnya ada ucapan, kata-kata dan perilaku kami yang kurang berkenan di hati pembaca.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Q.S. Ar Ruum: 21)

 

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. An Nuur: 32)

 

“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Q.S. Ath Thalaaq: 2-3)

Iklan

Mengasah Jiwa

Entah sejak kapan sudah lama tidak menulis note di facebook, padahal dulu orang paling getol nulis berdasarkan permasalahan di lapangan. Karena umur yang bertambah atau malah mulai memahami haluan lainnya, akhirnya mulai mengurangi aktivitas menulis. Padahal dalam hati ingin sekali berbagi hikmah kehidupan, hehe lagi-lagi semangatnya untuk nulis lagi mlempem, makanya peru dibakar lagi biar jadi kriuk-kriuk.

 

Sebenarnya sedang membuktikan kata-kata seorang kakak kalas yang saya dapatkan sekitar 4 tahun lalu, saat saya bergabung dengan sebuah redaksi majalah, petuah beliau adalah “ist menulis itu membutuhkan ketajaman dan kepekaan jiwa,karena dia dituntut untuk bisa menangkap makna dari setiap kejadian serta menuangkanya dalam tulisan, sehingga sesuatu yang biasa bisa menjadi luar biasa”. Waktu itu saya hanya manggut-manggut saja, karena mendapatkan job untuk bagian puisi. Bukan saya namanya kalau ga rada nyleneh membuktikan kata-katanya hehe.

 

Semenjak SMP memang saya hoby menulis tapi puisi dan cerpen,hmm tapi kalau dihitung-hitung lebih banyak puisi. Karena semenjak kecil sudah diajarin ortu jadi pujangga 😀 setiap acara 17 agustus pasti puisi lagi puisi lagi hehe. Bila lagi mood nulis bisa dalam sejam menghasilkan beberapa karya, kalau ingat dulu selalu ada note kecil di samping tempat tidur, note itu saya gunakan untuk mencatat ide atau kata-kata yang melintas biar ga hilang makanya cepat-cepat dicatat :).

Berlanjut, sebenarnya saya lebih suka gaya menulis untuk berbagi, yaa…. setiap orang punya gaya berbeda-beda. apapun itu gaya loe yang enting sarat dengan manfaat bagi pembacanya. Sepanjang saya rajin menghasilkan tulisan memang benar apa kata kakak kelas saya tadi, bahwa jiwa kita akan semakin peka dengan setiap kejadian di sekitat kita. Beberapa bulan kebelakang ini saya coba untuk off menulis atau mengurangi porsi menulis. Dan efeknya saya merasakan ada sesuatu yang berbeda dari sebelumnya, ternyata daya kepekaan saya menjadi turun. Teringat juga kalau sedekah itu membuat hidup kita semakin berkualitas dan bahagia, dan tulisan itu termasuk sedekah. Baru nyadar kalau saya pelit sedekah tulisan hehe. Alhamdulillah disadarkan Allah atas kealpaan ini. So kawan jika ingin memiliki jiwa dan hati yang peka maka mulailah menulis, bagikan hikmah yang bisa kau tangkap. Mari kita bantu orang lain untuk memahami hidup ini dari setiap tulisan penuh hikmah yang siap dibagikan, karena sebenarnya kita sedang berbagi energi positif.

Mungkin saya akan lebih fokus membahas tentang bisnis atau ekonomi islam, karena saya begitu tergila-gila dengan dua hal itu. Kata orang bijak “This my way” :). Mohon doanya semuanya ya 🙂

INSPIRASI Semangat Pagi Kawan

“Kebaikan itu meninggalkan sinar di wajah, cahaya di hati, keluasan rizki, kekuatan fisik, dan kecintaan dalam hati orang lain… Kejahatan itu mengakibatkan kegelapan di wajah, dan di hati, kelemahan di badan, kekurangan dalam rizki, dan kebencian dalam hati orang lain”. (Abdullah Bin Abbas)

 

‘Education and ambition will carry you out far in the pursuit of yours goals, but if you combine your knowledge with altruis action, your potential for succes will be unbounded”(James W .Lewis, Dir.Eksctif Golden Key Nationa Honor AS)

 

“Kalau saya tidak mencintai pekerjaan saya,maka bisa diastikan saya akan mengerjakannya secara asa-asalan,kalau saya mengerjakan pekerjaan saya secara asa-asalam,bisa dipastikan saya tidak akan pernah menghasilkan sesuatu yang berarti.Bila saya tidak menghasilkan sesuatu yang berarti,tidak akan pernah ada yang mau memandang saya”(Gede Prama)

 

“Ketika cinta memanggilmu,ikutilah,meskiun jalan yang kautempuh begitu terjal dan berliku-liku.Ketika sayap-sayanya merengkuhmu,serahkan dirimu padanya”(Khalil Gibran)

 

“Tujuan hidup ini bukanlah untuk menyelesaikan semua tugas,tapi untuk menikmati setiap langkah dalam perjalanan hidup dan merasakan hidup yang penuh dengan cinta kasih sayang”(Richard Calson)

 

SURGA DARI KAMAR MANDI ? [MengIndonesia]

Ini adalah judul artikel yang saya buat sekitar 2 tahun lalu tepatnya 21 juli 2010. Agar semakin memahmi Kebesaran Allah dan sempurnya Seknarionya, silhkan membaca artikel ini dulu http://www.facebook.com/notes/istiqomah-nur-l/surga-dari-kamar-mandi/405861040997 baru nanti melanjutkan membaca tulisan ini.

 

Saya baru tau ada sekeluarga yang hidup tidak layak di sekitar tempat tinggal saya, waktu itu mereka masih menempati sebuah ruangan berukuran kamar mandi. Cukup kecil dan sempit untuk dihuni 3 orang, jangan dibayangkan rasa nyamannya untuk tidur saja kaki tak bisa diluruskan. Ya benar, karena ruangan itu dulu memang sebuah kamar mandi bekas Sekolah Dasar yang sekarang sudah beralih fungsi menjadi tempat tinggal.

Sudah 2 tahun berlalu, setiap saya bertemu teman saya ceritakan kondisi  keluarga tersebut dan saya ajak untuk mengunjunginya. Rata-rata teman-teman saya menitikkan air mata melihat kondisinya, tapi bagi saya air mata itu sudah kering. Setiap teman yang saya ajak ternyata mereka mengajak teman-temannya yang lainnya untuk mengunjungi. Saya merasa sedikit lega, karena banyak orang peduli pada nenek iyah dan kakek feri.

Namun lamban laun seiring berjalannya waktu, teman-teman yang sering mengunjungi mulai menghilang satu persatu. Entah pindah keluar bandung, entah alasan ngerjain TA/PA/Skripsi atau entah dengan alasan lainnya yang merasa sok sibuk. Duh kalau mengingatnya harus dibarengi Istigfar, seharusnya mereka tidak boleh menjadikan itu sebagai alasan untuk berhenti berbuat kebaikan. Marah? iya tapi cukuplah kemarahanku atas sikap mereka kuadukan ke Allah. Tak ada gunanya juga menyimpan semua perasaan itu.

Kulupakan teman-teman yang dulu begitu banyak, ya aku pun harus legowo menerima sikap mereka. Karena setiap orang punya pilihan, tapi pilihanku ingin tetap merawatnya hingga ajal menjemputku. Biarlah nanti Allah yang akan mengganti semuanya. Tak bisa disalahkan juga mereka yang pernah membantu, setiap orang tidak bisa disamakan. Saya mengucapkan jazakallah khairan katsiran atas kesediaan teman-teman membantu nenek iyah, kakek feri dan ina. Pasti Allah akan membalasnya.

Hari ini setelah dua tahun berlalu, Allah memberikan seseorang yang mau perhatian dan rutin mengunjunginya. Dia adik kelasku yang seminggu lalu saya ajak menengok nenek. Begitu banyak orang ingin membantu, saya sangat senang melihatnya. Benar-benar saya melihat buktinya Allah pasti mencukupi semua kebutuhan hamba-hambanya.

Dan hari ini Allah menunjukkan Kebesaran dan kuasanya, karena saya gundah jika suatu saat saya meninggal, jika suatu saat saya harus meninggalkan Bandung. Siapa lagi yang mau secara rutin menengok dan merawata nenek, ina dengan penuh kasih sayang. Saya mewasiatkan pada dua orang untuk terus merawat nenek jika saya sudah tidak ada yaitu adik kelas saya tadi dan salah seorang sahabat dekat saya. Saya bisa lebih bernafas lega, karena selama dua tahun ini mencari-cari orang yang tepat untuk menyampaikan hal tersebut. Dan saya tidak ragu dengan mereka berdua, Insya Allah dengan izinNya mereka berdua bisa menjalankan amanah yang saya berikan.

Kembali lagi hari seorang trainer yang mengajari saya tentang Dream Planning dan Foto Aura mencari tempat untuk lokasi syuting “Menjemput Impian”. Langsung saja saya tawarkan lokasi nenek iyah tadi, dan subhanallah team Kang Zae bersedia. Dan ini beberapa gambar yang sempat saya ambil setelah selesai syuting dari Sindo Tv.

Kang Zae, nenek iyah, ina setelah Syuting selesai.

Mas kameramen yang menangis dari awal masuk rumah hingga sesi selesai, dan adik2 dari SMA Unpas.

Subhanallah, saya hanya bisa mengucap syukur bahwa Allah menenangkan hati saya dengan begitu banyaknya orang yang bersedia membantu. Kejadian ini membuat saya semakin yakin bahwa Allah itu dekat dan sangat dekat, bahwa Allah itu Maha Mendengar semua permintaan dalam hati kita pasti dikabulkan hanya bersabarlah menunggu waktu terbaik menurut Allah.

Begitu banyak orang yang ingin membantu, saya ingin membuat sebuah komunitas yang bergerak sosial. Karena masih banyak orang-orang seperti nenek iyah, hanya saja kita belum menemukannya. Rasanya juga tidak adil jika semua bantuan hanya terfokuskan pada nenek iyah, sedangkan masih banyak diluar sana yang kelaparan. Sahabatku mulailah menengok kekanan dan kekiri dari tempat tinggal kita, adakah keluarga yang memiliki nasib yang sama dengan nenek iyah? Mereka yang lebih dekat denganmu lebih utama untuk engkau bantu. Biarlah kisah hidup nenek iyah dan kakek feri(alm) menjadi inspirasi banyak orang. Subhanallah mereka orang yang sederhana, ikhlas dan sabar menjalani hidup pemberian Sang Maha Hebat, bisa menjadi inspirasi begitu banyak orang. Nah kita, yang serba kecukupan segalanya sudahkah menjadi inspirasi bagi orang lain? Jika belum, masih ada waktu kawan ..masih ada waktu,, jadilah pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Selamat berjuang.

Spesial thank’s to Kang Zae Hanan, Kang Ian, Rijani, Sma Unpas, Bem IT telkom, fosma Politeknik Telkom, keluarga mahasiswa sukapura, rio, mbak huri dan yang mendoakan secara diam-diam ataupun terang-terangan. Semoga langkah kecil ini menjadi Inspirasi bagi orang lain.

Syuting hari ini akan ditayangkan di Sindo Tv dalam acara MotivaTalk.

 

 

Memaknai Arti Ikhlas

Hari ini matahari bersinar dengan hangatnya, sinarnya menembus setiap diding hatimu sehingga mampu memberikan kehangatan di dinginnya jiwa. Untuk merenungi kembali perjalanan kehidupan yang panjang, tapi sebenarnya sangatlah singkat bagi orang yang menyadarinya. Karena bagi orang yang berfikir waktu ibarat pedang, siap menebas siapapun tanpa pandang bulu, jika tak mampu menggunakan waktunya dengan sebaik-baik mungkin.

Sahabat sejenak mari kita ingat kembali sudah berapa lama hidup didunia, ingatlah kembali dimana masa-masa kecil nan penuh riang dulu, ingatlah masa-masa sekolah berseragam merah putih, ingatlah ketika menapaki jenjang pendidikan putih abu-abu, ingatlah ketika bergelut didunia kampus dan ingatlah saat membangun biduk rumah tangga. Sudah berapa tahunkah semua kejadian itu berlalu? Renungi kembali kita yang sekarang berdiri dengan puluhan tahun lalu “Apakah masih pribadi yang sama? Tanpa ada perbaikan sedikitpun atau malah jauh lebih buruk dari beberapa tahun yang lalu?”. Sahabat waktu berlalu begitu cepat dan sangat cepat jika engkau menyadarinya. Begitulah kehidupan kawan dia tak pernah meminta izin kepada kita untuk berjalan, suka atau tidak suka kehidupan ini terus berjalan.

Sudahkah kita memaknai  semua kejadian yang telah terlewati? Masihkah ada jiwa yang diam-diam terluka karena perilaku kita? Masihkah ada jiwa yang kecewa dengan kita?. Sungguh sahabat hidup ini teramat sangat singkat, sudahkah kita mempersiapkan sebaik-baik bekal untuk kembali ke tempat hidup yang kekal.

Memahami kehidupan ini sebenarnya cukup ketika kita memahami makna ikhlas dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, maka apapun skenario yang Allah berikan hati kita selalu menerimanya dengan gembira. Segala langit dan bumi milik Allah, terserah Allah mau melakukan apa terhadap ciptaanNya. Sungguh sangat tenang dan bahagia ketika kita mempercayakan semua impian-impian kita kepada Allah. Biarlah Allah nanti yang mengoreksi impian kita dan biarlah Allah yang mewujudkannya di waktu terbaik menurut Allah.

Mencoba memahami kembali makna ikhlas di buku “Quantum Ikhlas”, ternyata kita perlu waktu disepanjang hidup untuk memahaminya. Ada satu kata-kata yang bagus yang saya fikir itu akan memudahkan kita memahami makna ikhlas agar hidup kita bahagia.

Arti Quantum Ikhlas

Ketika manusia benar-benar ikhlas, saat itulah do’a atau niatnya “berjabat tangan” melakukan kolaborasi dengan energy vibrasi quanta. Sehingga, melalui mekanisme kuantum yang tak terlihat, kekuatan Tuhanlah yang sebenarnya sedang bekerja. Jika sudah demikian, siapakah yang mampu menghalangi-Nya?

Seperti diriwayatkan oleh Imam Ja’far dalam kitab Al Bihar: “Apabila seorang hamba berkata, ‘Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah’ maka Allah menjawab , ‘Hai para malaikat-Ku, hamba0Ku telah berpasrah diri, maka bantulah dia, tolonglah dia, dan sampaikan (penuhi) hajatnya”

Dibuku ini dibahas dengan bahasa yang mudah dimengerti bagaimana kita memahami makna ikhlas dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Merasa hidup merana, tersiksa atau menjadi orang paling menyedihkan didunia. Atau mendapati kondisi kehidupan yang minim financial, lahir ditengah keluarga yang penuh keributan, dan merasa banyak impiannya belum terkabul. Secara manusia merasa terbebani dengan semua kondisi itu wajar atau merasa malu karena mendengar opini orang diluar tentang diri kita.

Hmm… biarkan saja orang berkata apa tentang kita tapi sehebat apapun mereka mencoba menjatuhkan mental kita itu tetap tak ada gunanya. Mereka sama-sama makan nasi, sama-sama butuh tidur dan banyak kesamaan lainnya, mereka tak bisa memberikan mudhorat dalam hidup kita so menghadapi orang seperti itu seharusnya kita tenang saja. Apapun yang diperbuat seseorang akan kembali pada pelakunya.

Sahabat… jika rasa ikhlas dan ridho menerima semua apapun yang Allah berikan kepada kita, jika mempercayakan kehidupan kita kepada Allah maka yakinlah Allah akan memberikan kebahagian dalam hidupmu dan PERCAYALAH Allah akan memberikan kejutan dalam hidupMu sehingga engkau merasa orang paling beruntung sedunia.

Ridha dengan semua keputusan Allah bukan berarti kita berleha-leha dan bersantai-santai dengan kehidupan ini.

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.  Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”

 (Surat Ar Ra’du:11).

Jadi tetaplah berikhtiar semaksimal mungkin dengan cara yang baik, tetaplah optimis dengan usahamu dan sinergikan dengan keikhlasan semua keputusan Allah. Apapun yang diberikannya adalah skenario terbaik bagi kita. Tetaplah tenang menghadapi kehidupan ini, tenanglah mewujudkan jutaan MIMPI. Ibarat anak panah yang melesat dengan tenang  menuju sasaran, jangan seperti banteng yang mengamuk menyeruduk kesana kemari tanpa arah makanya impiannya pun tak terarah dengan baik. Jika sudah mempercayakan semua kehidupan kepada Allah, maka iringilah dengan kesabaran. Sabar menunggu jawaban dari Allah melalui setiap soal kehidupan yang diberikan disetiap waktu dan sabar menanti hasilnya dari Allah. Sabar untuk terus menyempurnakan ikhtiar. Perpaduan keduanya ikhlas dan kesabaran akan memunculkan kebiasaan untuk selalu berfikir positif (khunudzon) dengan semua kejadian yang diterima. Dengan seperti itu kita akan memiliki hati seluas jagat raya ini, apapun ujian hidup yang datang terasa kecil sehingga masalah rumit  mudah diselesaikan dengan sederhana. Berbeda dengan hati yang sempit, diberi ujian yang sederhana akan memandangnya sangat rumit sehingga sepanjang hidupnya hanya berjibaku dengan hal-hal sepele.

Setiap orang berhak bermimpi apapun

Setiap orang bebas menentukan hidupnya  akan seperti apa

Setiap orang bebas memilih bermanfaat melalui ilmu apapun

Apapun itu pilihannya milikilah pemahaman yang benar tentang kehidupan ini, sehingga akan mengantarkanmu menjadi manusia bertaqwa dan dicintai penduduk Langit dengan berbagai kontribusi yang engku berikan. Ketahuilah HANYA ALLAH yang benar-benar Menyayangimu dan Merawatmu paling baik dari siapapun . Nikmatilah hidupmu yang begitu Indah 🙂

—————————————————————————————–

Sahabat saya percaya ANDA semua memiliki kisah hidup yang LUAR BIASA, bukankah itu Amanah ilmu dari Allah juga. Maka mulailah membagikannya kepada saudara yang lainnya. Karena saya juga ingin mendapatkan ILMU kehidupan dari Sahabat semuanya 🙂 Mari Berbagi dengan ILMU 🙂

“Carilah ILMU dengan membacanya dan IKATLAH ILMU dengan menuliskannya”

MENULISLAH MENULIS DAN MENULIS

Tak Usah Kau Pedulikan akan menjadi seperti apa, Mulailah Maka indahnya untain kata-katamu akan terangkai seiring berjalannya waktu. Bukankah begitu INDAH ketika raga ini tak lagi di Bumi tapi orang masih merasa dekat dengan kita melalui TULISAN Kita.

Saya tunggu tulisannya call  me or mention me or send me email hasil tulisan sahabat semua 🙂

Dengan senang hati saya membacanya.

Salam SUKSES

MIMPI Anak Di Perantauan series (Part:Perjuangan Ibu)

Di pagi yang sejuk ini setelah saya menyelesaikan membaca sebuah  buku karangan A Fuadi,dkk yang berjudul “Berjalan Menembus Batas” Man Jadda Wajada Series. Cerita yang didominasi bagaimana perjuangan dari kecil dan keindahan masa kecil hingga remaja sehingga menjadi daya dorong sangat kuat untuk mengarah mencapai impiannya. Saya juga tak mau kalah dengan mereka, ingin juga membagikan kisah hidup saya yang sederhana  kenangan dan pembelajaran waktu kecil begitu membekas dalam lubuk hati sehingga menjadi proporsi besar membentuk karakter. Kisah ini juga bisa menjadi inspirasi sahabat sebagai metode ‘parenting’ atau pengasuhan. Hmm saya belum punya anak mbak untuk apa belajar parenting? sebuah pertanyaan ketika saya mengenalkan belajar parenting sejak dini di kalangan mahasiswa tingkat dua, saya jawab “Benar kita memang belum punya anak, tapi bukankah kita punya adik, punya keponakan yang masih kecil, disekitar kita banyak anak-anak kecil. Jadikan mereka sebagai media pembelajaran kita, ini adalah sebuah naluri untuk membantu anak-anak kecil disekitar kita agar menjadi lebih baik lagi. Agar nanti kalian bisa menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak dan lingkungan sekitar, karena ini adalah sebuah proses bukan sesuatu ujug-ujug jadi instan.”

Diatas adalah sepenggal cerita ketika saya berdiskusi dengan seorang mahasiswa yang masih berkutat dengan sibuknya tugas kuliah, bisa jadi fenomena di atas banyak terjadi disekeliling kita. Merasa  sesuatu hal yang tabu jika berbicara tentang parenting usia dini. Bagi orang-orang desa termasuk saya , kebiasaan orang tua sudah menanamkan ilmu parenting sejak dini bahkan ketika saya masih TK. Walaupun saat itu saya masih binggung dengan nasehat  yang orang tua sampaikan. Baiklah sahabat mari kita mulai cerita ini dengan basmallah.

 

Saya lahir disebuah desa di daerah Boyolali pasti kurang familiar ditelinga sahabat semua, sahabat tau Bandara Adi Soemarmo tempat kecelakaan pesawat Lion Air yang masuk ke kuburan. Yap benar  sekitar 10 menit dari bandara desaku bisa dijangkau dengan kendaraan bermotor. Aku menetap tinggal disini  mulai awal kelas 3 SD, untuk menemani nenek yang sendirian sekaligus jarak tempuh lebih dekat ke sekolah maupun tempat Ortu mengajar. Sahabat..kedua orang tuaku guru, saat itu Ibuku masih mengajar sebagai guru di SMP N 1 Simo sedangkan ayah mengajar di MI AL ISLAM di desaku. Dari lahir hingga kelas 3 SD aku tinggal di daerah sawit sekitar 5 menit dari Rs.Dokter Oen kalau sahabat dari solo mau ke klaten atau sebaliknya maka sahabat akan melewati sebuah patung sapi di pinggir jalan dekat dengan pasar tegalgondo klaten. Saya mau mengajak sahabat bernostalgia  tentang kenangan saya dengan nenek dan sahabat saya sewaktu kecil. Layaknya seperti anak-anak desa lainnya, pasti waktu kecil banyak dihabiskan untuk bermain dan berpetualangan di alam, karena lingkungan tempat saya tinggal dikelilingi sawah, sungai besar yang jernih, perkebunan tembakau, perkebunan tomat, perkebunan melon  dan beberapa tempat penggilingan padi. Kalau sahabat mau mendapatkan gambaran yang jelas kehidupan masa kecil say,  mirip dengan kisah Si Bolang.

Sedikit saya akan bercerita tentang pasar tegalgondo, pasar yang paling dekat dengan rumah. Kembali ke kenangan pasar tegalgondo, dulu simbah (panggil untuk nenek dijawa) sering mengajak saya ke pasar dengan naik andong(delman.red). Sungguh pengalaman yang menyenangkan naik andong dan pasti dibelikan jajan pasar oleh simbah. Selama simbah berbelanja saya hanya mengekor saja melihat cara simbah memilih sayuran sampai cara menawar harga, dalam hati saya keren juga ni teknik menawar harganya membuat skak mat penjualnya. Jadi  saya selalu riang gembira pulang membawa banyak barang belanjaan simbah dan dapat bonus uang. Dengan belajar langsung ini makanya saya tau cara bagaimana menawar harga sampai habis-habisan.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari ibu menjual risoles ke toko-toko, setiap hari ibu tidur jam  11 malem untuk menyiapkan adonan dan risoles setengah matang dan bangun pukul 2 pagi untuk menggoreng risoles sehingga paginya waktu dibawa ayah ke toko risoles masih fresh. Saat itu yang saya lihat adalah ibu sosok yang sangat tangguh, bayangkan sahabat seharian mengajar,mengurus keluarga ,memasak semua itu dilakukan tanpa ditinggalkan satupun. Disaat semua orang sudah tidur Ibu masih terjaga dan di saat Ibu sudah terbangun semuanya masih terlelap dalam mimpi panjang. Saat itu usia saya masih sekitar  5 th atau masih di TK, karena jarak tempuh rumah ke solah simbah di dibal cukup jauh dan jarak tempuh ibu mengajar masih jauh lagi dari rumah simbah. Maka harus berangkat di pagi-pagi buta, saya masih sangat ingat bagaimana ibu menyiapkan semuanya. Setiap hari pukul 04.00 dalam kondisi mata masih tertutup Ibu sudah memandikan saya dan mendadani dengan pakaian  lengkap, begitulah Ibu mengajariku disiplin semenjak kecil. Selesai sholat shubuh saya dan ibu berangkat ke tempat pemberhentian Bus yang ada patung sapi, Ayah akan berangkat belakangan karena mengantarkan risoles dulu ke toko-toko.

Di pagi-pagi yang buta menuju tempat pemberhentian bus sekitar 1,5 Km ditempuh dengan jalan kaki bersama ibu, protes sering saya lontarkan karena bagi anak seusia saya berjalan sejauh itu di pagi buta adalah hal yang menakutkan. Dulu sepanjang jalan masih sepi di kiri dan kanan di dominasi tanaman padi. Tapi ibu selalu memberikan motivasi sehingga saya mau melewatinya, sepagi itu di daerah saya belum ada angkotan umum sahabat benar-benar sangat sepi dan gelap. Di sepanjang perjalanan menuju pemberhentian bus Ibu selalu menceritkan kepadaku kisah-kisah motivasi, sehingga semenjak kecil Ibu sudah mengajarkan kepadaku bagaimana menghadapi kehidupan ini secara bijaksana, bagaimana menjaga tata krama(sopan santun) kepada siapapun. Waktu tempuh terasa singkat, selain memberikan pembelajaran hidup  Ibu mengevaluasi hasil  sekolahku dan selalu menanyakan hari ini nanti belajar apa. Jadilah saya menceritakan apa yang sudah saya alami seharian kemarin di sekolah dan Ibu mendengarkan dengan sabar sambil memberikan masukan, saya baru menyadari kemampuan  mudah berkomunikasi kepada orang lain ternyata sudah dilatih Ibu semenjak saya kecil. Walaupun saat itu ibu tidak pernah bilang, karena bagi Ibu mengajarkan kemampuan berkomunikasi dengan baik semenjak kecil sangat perlu.

Berbeda dengan kebanyakan orang tua sekarang yang tidak memperhatikan dengan tingkat kembang anak dan penanaman nilai-nilai positif. Bagi wanita karier menjadikan kesibukan sebagai alasan untuk meninggalkan kewajiban  mendidik anak dengan sebaik-baiknya. Seandainya mereka tau betapa sibuknya Ibuku maka itu tak menjadikan alasan untuk meninggalkan mendidik anak dengan sebaik-baiknya.

Sekitar pukul  5 pagi biasanya saya sudah berdiri di depan patung sapi menunggu bus Solo-Yogya, Ibu selalu menjelaskan kepada saya kenapa  Ibu melakukan sesuatu hal agar saya paham termasuk dalam hal memilih bus. Sebenarnya bukan bus besar saja yang bisa saya tumpangi tapi ada bus kecil juga, memilih bus besar lebih aman dan nyaman untuk saya makanya ibu memilih bus besar. Subhanallah dalam hal sekecil itu pun ibu sangat memperhatikan, sarapan pagi selalu saya lakukan di dalam bus. Kebiasaan ibu selalu menjelaskan alasan kenapa melakukan sesuatu hal itu menular ke saya, dan dampaknya di organisasi saya lebih mudah dalam berkontribusi serta mengajak team bergerak mencapai tujuan yang sama.

Ibu selalu membawa bekal beberapa telur puyuh rebus, karena bagi Ibu apapun yang terjadi sarapan pagi itu sangat penting. Jadi sahabat selain berjualan risoles, dirumahku juga ada peternakan burung puyuh, ayam dan Ikan lele. Makanan favorit saya waktu kecil adalah telur  puyuh dan burung puyuh goreng hmm benar-benar lezat sahabat. Kami akan turun di terminal kartosuro lalu naik bus ‘budhi rahayu’ yang menuju kedesa simbah di dibal, jumlah bus melintas didesaku dulu cukup banyak sahabat. Entah kenapa menaiki bus umum bertemu banyak orang dengan membawa beberapa barang dagangannya menjadi pemandangan asyik bagiku. Karena mayoritas penduduk di desa simbah berprofesi sebagai seorang pedagang di pasar atau di rumah mereka. Desa simbah masih sangat asri sahabat tempat yang sejuk memanjakan mata dan pikiran dari rutinitas pekerjaan, selain itu mayoritas penduduknya masih menggunakan sepeda onthel/kayuh, merk sepeda paling banyak saat itu adalah ‘pit jengki phoenix’  sebagai alat transportasi kemanapun. Sekarang hampir tidak ada lagi bus melintas ke desaku, karena begitu cepatnya pertumbuhan pengguna sepeda motor  hanya tinggal angkot 08 warna kuning yang masih bertahan. Angkot ini memiliki jalur terpanjang dari semua angkot, nanti suatu saat akan saya ceritakan sahabat pengalaman berangkat sekolah ke SMA naik angkot secara sembunyi-sembunyi, berangkat jam 5.45 sampai sekolah 06.50 tapi pengalaman yang seru sahabat. Cobalah semuanya maka akan kau temukan pelajaran berharga didalamnya.

Dari terminal kartosuro naik bus menuju desa berhenti di pertigaan ngemplak  menuju rumah nenek masih dilanjut lagi dengan jalan kaki sejauh 1 KM, setiap hari saya selalu olahraga kaki sahabat dan itu menyehatkan 🙂  . Terkadang kalau lagi ngambek atau capek jalan saya hanya duduk jongkok di pinggir jalan, akhirnya Ibu harus merayu saya agar mau kembali berjalan. Hidup di desa sangat menyenangkan silaturahmi sangat erat terjaga, terkadang saya dan ibu dapat tumpangan orang sehingga tak perlu capek-capek berjalan kaki.  Sahabat.. saya baru menyadari dengan kegiatan rutin ini ternyata Ibu sedang mengajarkan saya menjadi anak yang sabar dan tangguh menghadapi semua cobaan. Bisa saja ibu menggendong saya atau menaikkan saya kebecak, tapi itu tak dilakukan karena Ibu sangat paham betul bahwa kehidupan ini keras hanya orang yang keras pada dirinya sendiri yang akan menang. Banyak orang tua yang terlalu sayang kepada anaknya sehingga terlalu memanjakannya , sehingga tak menyadari sedang  mematikan potensinya menghadapi hidup dan akhirnya dia tumbuh menjadi seseorang yang kerdil menghadapi kehidupan dunia ini.

 

Setiba dirumah simbah ibu langsung bersiap-siap berangkat ke tempat mengajar di simo, taukah sahabat menuju ke simo tidaklah mudah jalannya naik turun terjal penuh dengan batu. Karena SMPN 1 Simo terletak di pelosok desa di kecamatan berbeda  jarak tempuh sekitar 25 KM, itu ibu tempuh dengan naik sepeda motor. Sahaba…t coba bayangkan seorang wanita yang sudah bangun sejak pukul 2 pagi, untuk memenuhi panggilah hati sebagai seorang guru rela menempuh kondisi jalan yang tak mudah dilalui dengan motor. Walaupun rutinitas itu dilakukan setiap hari tapi tak pernah sekalipun Ibu mengeluh. Setiap pulang mengajar Ibu selalu menghadiahkanku cerita-cerita inspiratif sepanjang perjalanan ibu. Cerita yang paling menarik kudengar  saat ibu menaklukan hujan menuju perjalanan pulang. Simo adalah daerah yang gersang dan tak banyak penduduknya , saat itu pun jalanan belum terpasang lampu. Jika saat Ibu pulang hujan turun tetap saja Ibu terjang namun tak jarang juga motor macek dijalan karena busi terkena kubangan air, atau berhenti sejenak di pinggir jalan karena dasyatnya kilat menyambar. Bahkan ibu pernah telat pulang 2 jam karena harus memperbaiki busi motor sendiri di saat hujan turun, saat itu sama sekali tidak ada orang lewat, jauh dari perkampungan maka tak ada yang bisa membantu mau tak mau haru diperbaiki sendiri. Setelah sekian tahun aku baru menyadari sahabat bahwa Ibu ingin mengajariku makna kegigihan dan tak pantang menyerah dengan segala kondisi dan keadaan yang dialami. Bisa saja ibu meninggalkan motor di sekolah, atau menumpang di rumah penduduk sebentar tapi  itu tak dilakukannya, karena tanggung jawabnya untu mendidikku menjadi motivasinya untuk segera sampai dirumah.

Karena bagi ibuku mendidik anak itu adalah tanggung jawab terbesarnya. Setiap tiba dirumah ibu langsung mengevaluasiku dengan kegiatan selama ditinggal ibu dan tak lupa juga menanyakan kepada simbah. Sahaba…t  simbah orang yang mengasuhku semenjak kecil selain ibu, dari simbah saya diajari banyak sedari kecil terutama terutama pemakaian ‘boso krama Inggil’. Simbah selalu meluangkan waktu untuk menceritakan tentang tatakrama orang jawa apa yang dilakukan dan apa yang tak boleh dilakukan, dibelangkang rumah simbah ada kebun, setiap mau ke kebun simbah selalu mengajak saya dan mengajari berbagai hal tentang tanaman. Masih saya ingat sahabat dulu simbah suka menanam pohon koro, ceme, pare, jambu, ubi jalar, papaya dan simbah membolehkanku menanam apapun yang aku suka. Pilihanku saat itu adalah menanam berbagai bunga yang biji dan pohonnya saya dapatkan dari tetangga, saya punya sebuah sepeda kecil dengan sepeda itu saya mengelilingi kampung saat menemukan tanaman bunga yang indah maka spontan saya akan langsung minta bijinya atau pohonnya kepada pemiliknya. Dan pulang dengan perasaan menang karena menambah koleksi tanaman bunga saya, simbah juga mengajari bagaimana cara bercocok tanam agar tanaman tumbuh dengan maksimal. Bahkan nenek juga membuatkan pagar untuk melindungi tanaman bungaku dari berbagai tangan jahil. Lagi-lagi sahabat simbah mengajarkan kepadaku untuk bersikap arif dan bijaksana terhadap alam, karena kata simbah kita mencukupi kebutuhan dari alam maka sebaiknya kita juga menjaganya. Pengalaman yang paling berkesan adalah saat simbah mengajari membuat sarang untuk memancing lebah dari glugu(batang pohon kelapa).

Sambil menunggu dijemput Ayah untuk pulang biasanya saya dan teman-teman menghabiskan waktu dengan bermain atau berkelana. Permainan anak-anak desa sangat banyak kawan jadi kalau kalian ikut tak akan pernah bosan ada singkongan, uding, baksodor, untrakol, kasti, lagentri, benthik, jelungan, buron, dakon, englek, engrang, bethengan,  dll. Pasti kata-kata ini terdengar asing tapi permainan ini popular di kalangan anak-anak desa kawan. Kami selalu melakukan permainan ini dengan anak-anak lainnya sehingga suasananya riuh ramai, dengan melakukan beberapa permainan sebenarnya anak-anak tadi belajar tentang leadership, team building dan manajemen konflik. Semuanya itu mereka pelajari secara alami dari kecil, maka itu sahabat mayoritas orang sukses di dominasi oleh mereka yang berasal dari desa. Kalau sahabat menyadari Rasulullah ketika kecil dibawa kedesa, maka Rasulullah semenjak kecil sudah mendapatkan pengajaran yang baik.

Rumah simbah sangat dekat dengan lapangan sepak bola di pinggirnya banyak pohon randu(kapas) dan mahoni. Jika tidak sedang bermain biasanya saya dan teman-teman menghabiskan waktu dilapangan, entah bermain dengan domba yang sedang digembala, menggoda kerbau-kerbau, mengambil uret(seperti ulat tapi rada besar, ditemui di batang pohon kelapa untuk makanan ayam), atau sekedar mengambil buah mahoni yang pahit. Sungguh kenangan yang manis kawan, bagaimana ibu mendidik dari kecil, simbah yang berbagi banyak ilmu dan bermain dengan teman. Kalau sahabat punya teman dari desa tanyakan saja kemungkinan besar kehidupannya akan sama dengan yang saya ceritakan terutama di bagian permainan dan penanaman nilai tatakrama dari kecil.

Teringat petikan tulisan di buku Tere-Liye berjudul Burlian serial anak-anak amak, kata-kata yang disampaikan ayah ke pada burlian.

“Jika saja kalian tau apa yang sudah amak kalian lakukan untukmu maka sepersepuluhnya pun kau tak akan mampu membalasnya burlian”

 

Suatu saat nanti akan ku ceritakan sahabat bagaimana pembelajaran hidup yang aku peroleh. Biarlah cerita sederhana ini memberikan warna berbeda diantara cerita yang lain. Untuk sahabatku yang berjuang dari desa tak usah malu kawan, orang ndeso itu penuh dengan ketrampilan dan kemampuan. Kelak engkaulah yang akan membukakan dunia dengan mimpi-mimpi besarmu.

Insya Allah disambung kembali, karena pasti sahabat penasaran Mimpi seperti apa yang saya sebagai wong ndeso. Akan saya ceritakan juga bagaimana perjuangan sekolah ke SMP dengan jarak 12 KM dengan sepeda kayuh.

to be continued