Karena kita salah memahami keinginan Ibu yang sederhana

Dalam hadist nabi menyebutkan bahwa “Surga dibawah telapak kaki ibu” dan berbakti kita kepada ibu tiga kali baru kepada Ayah. Ini menunjukkan betapa luar biasa peran seorang  ibu dalam melahirkan dan mendidik anak-anaknya. Bahkan setetas air susu ibu yang kita minum tak bisa kita balas.

Lalu bagaimana peran berbakti kita kepad ibu?

Pernahkah kita menyadari bahwa dalam perjalanan hidup ini, sering salah memahami keinginan Ibu yang begitu sederhana?, misal : keinginannya untuk ditelfon seminggu sekali, sesekali pulang, dll.

mungkin karena begitu sederhana, sering kita menghiraukannya, dengan berbagai alasan yang kita sampaikan, entah lagi sibuk dengan kerjaan, jarak yang jauh, deell alasan lain yang sudah kita siapkan. Seorang ibu tetaplah ibu, dia tidak akan pernah meminta hal yang berat, dan bahkan tak ingin memberatkan anaknya. 

Mari kita renungkan kembali, sudah berapa usia Anda sekarang? sudah berapa banyak kita membuat Ibu tersenyum bahagia? ataukah sudah berapa kali kita membuatnya menitikan air mata, gundah dan bersedih? berapa lama lagi kira-kira usia ibu kita?

yahh…ternyata kita jauh lebih banyak membuatnya bersedih dalam diam, menitikkan air mata dalam sepi hanya karena kita tak bisa memahami keinginannya yang sederhana. 

 

Ada sebuah kisah, seorang anak yang memiliki cita-cita untuk berkeliling dunia, dia bersikeras untuk mewujudkan keingiannya itu. berbagai usaha dia coba, mengikuti berbagai karya ilmiah, mengikuti berbagai perlombaan dll. Namun ibunya yang sederhana menginginkan anaknya untuk bekerja saja, karena beigtu sederhana keinginannya sang anak menganggap itu permintaan yang bisa ditangguhkan. 

HIngga pada suatu hari, sang anak tersebut tak kunjung bisa berkeliling dunia, padahal semua usaha telah dicobanya. Dalam kesendiran dia menangis, menangis karena usahanya sia-sia. Dalam kesedihan dan keputusa asaan, dia teringat wajah ibu, dia teringat keinginan ibunya yang sederhana. 

Seketika itu juga air mata membanjiri wajahnya, betapa selama ini dia tidak menyadari bahwa telah durhaka kepada Ibunya. Ibunya yang talah 30 tahun merawatnya, bahkan rela mengorbankan keinginan dan cita-cita pribadinya hanya untuk membesarkannya. Kini dia telah dewasa, ibunya hanya meminta 1 hal sederhana namun dia tak ingin mewujudkan karena memiliki keinginan lainnya. Betapa dia menyadari telah keegoisan dalam dirinya, bahwa mewujudkan keinginan Ibu adalah sebuah pekerjaan yang mulia.

 

sahabat kisah ini mengajarkan kepada kita, bahwa terkadang kita sering salah memahami keinginan ibu yang sederhana. Mungkin kita belum merasakan menjadi orang tua, sehingga kita tak mampu memahami perasaannya. Dalam perjuangannya membesarkan kita, begitu banyak Ibu mengorbankan keinginan pribadinya agar kita bisa tumbuh dengan sempurna. Maka selagi Ibu masih bernafas, maka penuhilah keinginaannya selama itu tidak menyalahi syariat. Letakkanlah ambisi pribadimu dan utamakanlah keinginannya, sebagaimana dulu Ibu meletakan keinginan pribadinya demi memenuhi keinginan kita. Jika suatu saat, kita menjadi orang tua maka kita harus berlapang dada karena akan banyak keinginan pribadi kita yang akan kita lepaskan dan akan kita utamakan segala hal untuk menjadikan buaah hati kita tumbuh dewasa dan memberikan banyak manfaat. 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s