Landasan Organisasi : Cinta Kami Berlandaskan CintaNya

Melanjutkan cerita sebelumnya tentang pelantikan “Organisasi Peradaban”. Kali ini kami ingin menyampaikan betapa indahnya dan menentramkan dunia pernikahan yang dibingkai dalam syariatNya serta cintaNya.

Tulisan ini lahir dari kesadaran begitu banyaknya orang yang membina biduk rumah tangga tanpa pemahaman islam, sehingga rumah yang seharusnya menjadi syurga malah berubah menjadi neraka. Semoga Allah menjauhkan kami dari sifat pamer, mengkomporin, menyakiti hati orang lain, maupun menggurui, karena pernikahan kami masih seumur jagung. Hanya sedikit hikmah yang ingin kami sampaikan. Terutama bagi yang sedang merencanakan pernikahan bahkan berbagi dengan yang sudah menikah sekalipun.

Rumah yang menjadi pondasi paling penting untuk bangsa ini menjadi maju dan besar, tetapi ternyata banyak kisah perceraian dan perseteruan bermula dari rumah. Ini menunjukkan tak terbangunnya rasa sakinah, mawaddah dan rahmah sebagai perwujudan rumahku syurgaku. Maka, tak heran, walaupun Indonesia memiliki jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, tapi moral bangsanya carut marut tak karuan, mencoreng keindahan Islam yang mulia. Semoga kita bisa bersama sama memperbaiki kondisi ini.

Merencanakan pernikahan dan impian  keluarga yang akan dibangun nantinya bukan muncul dalam hitungan sekejab. Ini visi jangka panjang hingga ke akhirat kelak, maka persiapannya pun tak bisa sembarangan. Butuh persiapan secara matang, baik secara pemahaman, mental, finansial dan urgensinya. Dan dibutuhkan pula sikap mau belajar, mau memperbaiki diri. Ini pun salah satu kuncinya. Bayangkan, sisa hidup kita akan dihabiskan dengan orang seperti apa? Bayangkan juga, dalam situasi dan kondisi seperti apa kita akan hidup nantinya? Kita harus persiapkan dengan segala kemungkinannya. Ini asyiknya! Seberapa jauh kita akan berikhtiar, tawakkal, berdo’a akan hal yang telah Allah tuliskan di Lauhul Mahfudz.

Yahh mungkin ini yang membuat beberapa orang takut melangkah untuk menikah walaupun sebenarnya sudah mampu, takut dengan siapa kita akan menjalani sisa hidup kita.  Kamudian, karena tak memahaminya, melampiaskan dengan cara yang menodai kesucian pernikahan itu yaitu dengan pacaran. Ya iyalah ! Bagaimana mau meraih sakinah mawaddah dan rahmah, kalau cara dari awal untuk menggapainya sudah dipenuhi dengan dosa. Wajarlah ketika menikah akan banyak perselisihan.

Hal yang paling penting untuk ditanamkan dan dipegang adalah, sebenarnya untuk apa menikah? hanya untuk menjaga diri? menyempurnakan setengah agama? itu tidak salah, tapi menurut saya dan suami ada yang lebih tinggi lagi. Kami sepakat bahwa menikah adalah perkara ibadah kepada Allah. “Meletakkan Allah di atas segalanya dan bersedia memurnikan segala sesuatu untuk Allah” menjadi landasan kami menjalankan perahu di lautan kehidupan. Bukan pekerjaan yang mudah, namun bukan pekerjaan yang tidak mungkin juga. Ini pekerjaan yang menantang!

Tentu saja menantang, ketika masih single melakukan sesuatu untuk Allah itu sesuatu yang lebih mudah, karena hatinya belum terisi dengan yang lainnya. But! setelah menikah itu berbeda lagi, bagaimana memposisikan cinta kepada pasangannya tanpa sedikitpun mengurangi cinta kepada Allah bahkan semakin menambah cinta kepadaNya adalah pekerjaan yang menyenangkan. Jangan sampai posisi Allah dihati tergeser atau tergantikan dengan posisi pasangan, hmm semua itu butuh latihan dan usaha tak kenal lelah.

Diketemukan dengan belahan jiwa dan teman mengarungi kehidupan, tentu hal yang didambakan semua orang. Ketika cinta dengan lawan jenis menjadi halal bahkan berpahala itulah indahnya pernikahan, namun tak sedikit pasangan yang terbuai dengan kenikmatan cinta kepada pasangannya. Sehingga cinta kepada Sang pemberi cinta luntur dari hari ke hari, sungguh merugilah. Ibadahnya menurun, aktifitas penuh kebaikan berkurang atau terlalu melarang pasangannya untuk aktif ini itu. Hey, sadar donk! pasangan itu hanya patner. Teman, ingatlah! dia bukan milikmu, dia milikNya. Tak pantaslah mengekang potensinya.

Membangun rumah tangga berlandaskan cintaNya, saling mengingatkan ketaqwaan kepadaNya dan saling menegur karena ada ibadah yang kendur, karena rumah tangga adalah sekolah kehidupan di sepanjang usia kami.

Sahabat, kita akan bertemu dengan pasangan kita yang tidak sempurna, tapi kita akan belajar mencintainya dengan sempurna.

Alhamdulillah akhirnya menulis lagi setelah moment penting dalam hidup kami,, ploong rasanya kembali menuliskan sesuatu. Happy reading kawan🙂 Merasakan sakinah setelah menikah memang benar kata Rasulullah bahwa keluarga itu syurga dunia🙂

Semoga bermanfaat “Cinta tak akan berarti apa-apa ketika tak membawa cintaNya”🙂

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s