Hidup Ini Sederhana

“Hidup ini sederhana maka sederhanakan hidup, begitulah seharusnya kita menyikapi” ini adalah kata-kata yang diberikan dari seorang ustadz ketika saya berbincang dengan beliau tentang kehidupan.

 

Jika diresapi mendalam kedua kalimat tersebut begitu dasyat, dan itu hanya akan keluar dari orang yang benar-benar memahami hidup ini. Terkadang disadari atau tidak kita sering begitu rumit memikirkan hidup ini, terlalu pusing memikirkan hal-hal yang sebenarnya sudah dijamin oleh Allah. Terlalu muluk-muluk berfikir ambisius dan terlalu khawatir dengan apapun yang sedang terjadi. Sehingga kita sibuk menanyakan ke otak solusi dari semuanya, padahal otak juga tidak punya kuasa untuk menyelesaikannya. Alhasil akan banyak orang frustasi dan sibuk memikirkan yang menjadi kuasa Nya. Energi habis, pikiran lelah dan tentunya kehilangan detik-detik berharga dalam hidupnya yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan kebaikan.

 

Berfikirlah sederhana dan sederhanakanlan hidup ini, artinya jangan terlalu ambil pusing dengan semua yang terjadi dalam kehidupan ini. Cukup serahkan kepada Allah dan biarkan Allah menjalankan skenario dan menyelesaikanNya, tanpa perlu banyak bertanya. Let it flow so..semakin lama kita akan semakin mudah lagi dalam menyikapi hidup ini. 🙂

Kalimat Negatif Memberikan Efek Besar Terhadap Otak

Catatanku

Dalam kehidupan ini perkataan orang yang bernilai negatif terhadap diri kita lebih membekas daripada pujian. Cacian, umpatan, dan kata-kata kasar lebih lama hilangnya daripada kata-kata yang manis-manis. Begitu pula kritikan, jika kita dkritik maka kritikan itu akan sering terngiang-ngiang dan sulit dilupakan. Hal ini karena kita lebih sering memikirkan kata-kata negatif itu ketimbang memikirkan kata yang baik-baik. Diri kita seolah tidak bisa menerima dikatakan yang buruk-buruk.

Hasil penelitian dr John Cacioppo dari Universitas Chicago menemukan bahwa, seperti dikutip dari artikel ini, “kalimat negatif memberikan efek besar terhadap otak. Dampak ini disebut negative bias. Karena itu, kritikan akan lebih membekas di ingatan dibanding pujian”.

Jika kalimat negatif diucapkan orangtua kepada anak yang masih kecil maka efeknya bisa fatal. Janganlah sekali-sekali mengucapkan kepada anak kata-kata seperti ini: “kamu bodoh”, “kamu pemalas”, “kamu pandir”, “kamu pelawan”, “kamu pembohong”, “kamu tidak berguna”, dan sebagainya. Kata-kata itu akan membekas tertanam pada otak si…

Lihat pos aslinya 120 kata lagi

Sebab diriku Berhenti Jadi Wanita Karir

Jalan-jalan ke lapak lainnya, nemu ini cerita bagus. Semoga bermanfaat :).

 

Sore itu sembari menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar. Kulihat seseorang yang berpakaian rapi, berjilbab dan tertutup sedang duduk disamping masjid. Kelihatannya ia sedang menunggu seseorang juga. Aku mencoba menegurnya dan duduk disampingnya, mengucapkan salam, sembari berkenalan.

Dan akhirnya pembicaraan sampai pula pada pertanyaan itu. “Anti sudah menikah?”.

“Belum ”, jawabku datar.

Kemudian wanita berjubah panjang (Akhwat) itu bertanya lagi “kenapa?”

Pertanyaan yang hanya bisa ku jawab dengan senyuman. Ingin kujawab karena masih hendak melanjutkan pendidikan, tapi rasanya itu bukan alasan.

“Mbak menunggu siapa?” aku mencoba bertanya.

“Menunggu suami” jawabnya pendek.

Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya-tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya “Mbak kerja di mana?”

Entah keyakinan apa yang membuatku demikian yakin jika mbak ini memang seorang wanita pekerja, padahal setahu ku, akhwat-akhwat seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.

“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi” jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.

“Kenapa?” tanyaku lagi.

Dia hanya tersenyum dan menjawab “karena inilah PINTU AWAL kita wanita karir yang bisa membuat kita lebih hormat pada suami” jawabnya tegas.

Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.

Saudariku, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah hanya ingin didatangi oleh laki-laki yang baik-baik dan sholeh saja.

“Saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7 juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari dan es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya. Kamu tahu kenapa ?

Waktu itu jam 7 malam, suami saya menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Setibanya dirumah, mungkin hanya istirahat yang terlintas dibenak kami wanita karir. Ya, Saya akui saya sungguh capek sekali ukhty. Dan kebetulan saat itu suami juga bilang jika dia masuk angin dan kepalanya pusing. Celakanya rasa pusing itu juga menyerang saya. Berbeda dengan saya, suami saya hanya minta diambilkan air putih untuk minum, tapi saya malah berkata, “abi, umi pusing nih, ambil sendiri lah !!”.

Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya.

Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya (kami memang berkomitmen untuk tidak memiliki khodimah)? Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci. Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini? Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga.

Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi demam, tinggi sekali panasnya. Saya teringat perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air putih saja saya membantahnya. Air mata ini menetes, air mata karena telah melupakan hak-hak suami saya.

Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yang di usapnya.

“Kamu tahu berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700 rb/bulan. Sepersepuluh dari gaji saya sebulan. Malam itu saya benar-benar merasa sangat durhaka pada suami saya.

Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya dengan ikhlas dari lubuk hatinya. Setiap kali memberikan hasil jualannya, ia selalu berkata “Umi, ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah-mudahan Umi ridho”, begitulah katanya. Saat itu saya baru merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong dan durhaka pada nafkah yang diberikan suami saya, dan saya yakin hampir tidak ada wanita karir yang selamat dari fitnah ini

“Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu sering begitu susah jika tanpa harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya” Lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara.

“Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua, dan saudara-saudara saya justru tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja. Sesuai dugaan saya, mereka malah membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan yang lain.

Aku masih terdiam, bisu mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan

“Kak, bukankah kita harus memikirkan masa depan ? Kita kerja juga kan untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini mahal. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah.

Salah kakak juga sih, kalo mau jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali mengalir, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.

“anti tau, saya hanya bisa menangis saat itu. Saya menangis bukan karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, Demi Allah bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya sudah DIPANDANG RENDAH olehnya.

Bagaimana mungkin dia meremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia ?

Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membangunkan saya untuk sujud dimalam hari ?

Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya ?

Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan ?

Bagaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah di hadapannya hanya karena sebuah pekerjaaan ?

Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya.

Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya.

Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya.

Saya berharap dengan begitu saya tak lagi membantah perintah suami saya. Mudah-mudahan saya juga ridho atas besarnya nafkah itu. Saya bangga dengan pekerjaan suami saya ukhty, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan seperti itu

Disaat kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tetapi suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya

Suatu saat jika anti mendapatkan suami seperti suami saya, anti tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami anti pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku. Mengambil tas laptopnya, bergegas ingin meninggalkanku

Kulihat dari kejauhan seorang laki-laki dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, wanita itu meninggalkanku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.

Ya Allah….

Sekarang giliran aku yang menangis. Hari ini aku dapat pelajaran paling berkesan dalam hidupku. Pelajaran yang membuatku menghapus sosok pangeran kaya yang ada dalam benakku..Subhanallah..Walhamdulillah..Wa Laa ilaaha illallah…Allahu Akba

Semoga pekerjaan, harta dan kekayaan tak pernah menghalangimu untuk tidak menerima pinangan dari laki-laki yang baik agamanya.

#Sumber kaskus

Pindah Lapak

Sudah beberapa minggu menelantarkan blog, saya kembali lagi :). Tapi kali ini tidak akan bercerita panjang lebar, hanya ingin memindahkan kata-kata yang indah menurut saya, dari facebook ke blog. Jika suatu hari nanti saya membutuhkan ga repot-repot harus nyari di fb yang tertumpuk dengan informasi lainnya. 😀 hmm setelah saya hunting sampai page akhir cuman nemu beberapa aja, kayaknya ada beberapa status inspirasi yang hilang. Forget it… maybe one day mreka akan kutemukan kembali 🙂

Terlihat kuat dari luar padahal lemah dan rapuh di dalam nya.Terlihat lemah lembut padahal kuat didalam nya. Don’t judge people by ……cover. Inilah seni cara mengenal dan memahami orang.[22 agustus]

Selalu perbesar syaraf syukur, maka engkau akan memahami bahwa setiap detik kejadian yg Allah berikan adalah yg terbaik bagi kita. Sehingga hati merasa tenang,karena hidupnya sudah dipercayakan kepadaNya 🙂 [16 agustus]

Hidup ini tentang keyakinan, Yakin benar semuanya pasti dijaminNya,yakin benar semua urusan akan diselesaikanNya, Yakin benar semua kebutuhan akan dipenuhiNya, YAKIN semuanya terjadi atas izinNya. Seberapa besar Keyakinanmu kepada Allah jauh lebih besar lagi kasih sayangNya yang diberikan. #Selamat menikmati detik-detik terakhir Ramadhan.[15 agustus]

Sehebat apapun membuat sistem jika tidak ada orang yang kuat untuk mengontrol dan mengarahkannya, maka itu hanya akan menjadi bumerang.#Kepemimpinan Yang kuat (the winning team) [14 agustus]

Menjadi pengusaha itu adalah pilihan, dan bersiaplah dengan ujian besar yang Allah berikan. Karena pengusaha penuh dengan resiko dan tantangan, jika menyerah dan mundur maka Impian besar yang tinggal selangkah akan hilang. Karena menjadi pengusaha harus memiliki mental yang kuat, maka dari itu Rasulullah juga seorang pengusaha dan menjadi pengusaha adalah jalan yang indah untuk menikmati Islam.[22 juni]

“Semua penulis akan mati. Hanya karyanyalah yang akan abadi. Maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu nanti di akhirat”(Ali bin Abi Thalib)[2 februari 2011]

Memang hanya cinta kepada Allah tak akan pernah menyesatkan atau membuat kecewa.[8 nov 2010]