MIMPI Anak Di Perantauan series (Part:Perjuangan Ibu)

Di pagi yang sejuk ini setelah saya menyelesaikan membaca sebuah  buku karangan A Fuadi,dkk yang berjudul “Berjalan Menembus Batas” Man Jadda Wajada Series. Cerita yang didominasi bagaimana perjuangan dari kecil dan keindahan masa kecil hingga remaja sehingga menjadi daya dorong sangat kuat untuk mengarah mencapai impiannya. Saya juga tak mau kalah dengan mereka, ingin juga membagikan kisah hidup saya yang sederhana  kenangan dan pembelajaran waktu kecil begitu membekas dalam lubuk hati sehingga menjadi proporsi besar membentuk karakter. Kisah ini juga bisa menjadi inspirasi sahabat sebagai metode ‘parenting’ atau pengasuhan. Hmm saya belum punya anak mbak untuk apa belajar parenting? sebuah pertanyaan ketika saya mengenalkan belajar parenting sejak dini di kalangan mahasiswa tingkat dua, saya jawab “Benar kita memang belum punya anak, tapi bukankah kita punya adik, punya keponakan yang masih kecil, disekitar kita banyak anak-anak kecil. Jadikan mereka sebagai media pembelajaran kita, ini adalah sebuah naluri untuk membantu anak-anak kecil disekitar kita agar menjadi lebih baik lagi. Agar nanti kalian bisa menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak dan lingkungan sekitar, karena ini adalah sebuah proses bukan sesuatu ujug-ujug jadi instan.”

Diatas adalah sepenggal cerita ketika saya berdiskusi dengan seorang mahasiswa yang masih berkutat dengan sibuknya tugas kuliah, bisa jadi fenomena di atas banyak terjadi disekeliling kita. Merasa  sesuatu hal yang tabu jika berbicara tentang parenting usia dini. Bagi orang-orang desa termasuk saya , kebiasaan orang tua sudah menanamkan ilmu parenting sejak dini bahkan ketika saya masih TK. Walaupun saat itu saya masih binggung dengan nasehat  yang orang tua sampaikan. Baiklah sahabat mari kita mulai cerita ini dengan basmallah.

 

Saya lahir disebuah desa di daerah Boyolali pasti kurang familiar ditelinga sahabat semua, sahabat tau Bandara Adi Soemarmo tempat kecelakaan pesawat Lion Air yang masuk ke kuburan. Yap benar  sekitar 10 menit dari bandara desaku bisa dijangkau dengan kendaraan bermotor. Aku menetap tinggal disini  mulai awal kelas 3 SD, untuk menemani nenek yang sendirian sekaligus jarak tempuh lebih dekat ke sekolah maupun tempat Ortu mengajar. Sahabat..kedua orang tuaku guru, saat itu Ibuku masih mengajar sebagai guru di SMP N 1 Simo sedangkan ayah mengajar di MI AL ISLAM di desaku. Dari lahir hingga kelas 3 SD aku tinggal di daerah sawit sekitar 5 menit dari Rs.Dokter Oen kalau sahabat dari solo mau ke klaten atau sebaliknya maka sahabat akan melewati sebuah patung sapi di pinggir jalan dekat dengan pasar tegalgondo klaten. Saya mau mengajak sahabat bernostalgia  tentang kenangan saya dengan nenek dan sahabat saya sewaktu kecil. Layaknya seperti anak-anak desa lainnya, pasti waktu kecil banyak dihabiskan untuk bermain dan berpetualangan di alam, karena lingkungan tempat saya tinggal dikelilingi sawah, sungai besar yang jernih, perkebunan tembakau, perkebunan tomat, perkebunan melon  dan beberapa tempat penggilingan padi. Kalau sahabat mau mendapatkan gambaran yang jelas kehidupan masa kecil say,  mirip dengan kisah Si Bolang.

Sedikit saya akan bercerita tentang pasar tegalgondo, pasar yang paling dekat dengan rumah. Kembali ke kenangan pasar tegalgondo, dulu simbah (panggil untuk nenek dijawa) sering mengajak saya ke pasar dengan naik andong(delman.red). Sungguh pengalaman yang menyenangkan naik andong dan pasti dibelikan jajan pasar oleh simbah. Selama simbah berbelanja saya hanya mengekor saja melihat cara simbah memilih sayuran sampai cara menawar harga, dalam hati saya keren juga ni teknik menawar harganya membuat skak mat penjualnya. Jadi  saya selalu riang gembira pulang membawa banyak barang belanjaan simbah dan dapat bonus uang. Dengan belajar langsung ini makanya saya tau cara bagaimana menawar harga sampai habis-habisan.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari ibu menjual risoles ke toko-toko, setiap hari ibu tidur jam  11 malem untuk menyiapkan adonan dan risoles setengah matang dan bangun pukul 2 pagi untuk menggoreng risoles sehingga paginya waktu dibawa ayah ke toko risoles masih fresh. Saat itu yang saya lihat adalah ibu sosok yang sangat tangguh, bayangkan sahabat seharian mengajar,mengurus keluarga ,memasak semua itu dilakukan tanpa ditinggalkan satupun. Disaat semua orang sudah tidur Ibu masih terjaga dan di saat Ibu sudah terbangun semuanya masih terlelap dalam mimpi panjang. Saat itu usia saya masih sekitar  5 th atau masih di TK, karena jarak tempuh rumah ke solah simbah di dibal cukup jauh dan jarak tempuh ibu mengajar masih jauh lagi dari rumah simbah. Maka harus berangkat di pagi-pagi buta, saya masih sangat ingat bagaimana ibu menyiapkan semuanya. Setiap hari pukul 04.00 dalam kondisi mata masih tertutup Ibu sudah memandikan saya dan mendadani dengan pakaian  lengkap, begitulah Ibu mengajariku disiplin semenjak kecil. Selesai sholat shubuh saya dan ibu berangkat ke tempat pemberhentian Bus yang ada patung sapi, Ayah akan berangkat belakangan karena mengantarkan risoles dulu ke toko-toko.

Di pagi-pagi yang buta menuju tempat pemberhentian bus sekitar 1,5 Km ditempuh dengan jalan kaki bersama ibu, protes sering saya lontarkan karena bagi anak seusia saya berjalan sejauh itu di pagi buta adalah hal yang menakutkan. Dulu sepanjang jalan masih sepi di kiri dan kanan di dominasi tanaman padi. Tapi ibu selalu memberikan motivasi sehingga saya mau melewatinya, sepagi itu di daerah saya belum ada angkotan umum sahabat benar-benar sangat sepi dan gelap. Di sepanjang perjalanan menuju pemberhentian bus Ibu selalu menceritkan kepadaku kisah-kisah motivasi, sehingga semenjak kecil Ibu sudah mengajarkan kepadaku bagaimana menghadapi kehidupan ini secara bijaksana, bagaimana menjaga tata krama(sopan santun) kepada siapapun. Waktu tempuh terasa singkat, selain memberikan pembelajaran hidup  Ibu mengevaluasi hasil  sekolahku dan selalu menanyakan hari ini nanti belajar apa. Jadilah saya menceritakan apa yang sudah saya alami seharian kemarin di sekolah dan Ibu mendengarkan dengan sabar sambil memberikan masukan, saya baru menyadari kemampuan  mudah berkomunikasi kepada orang lain ternyata sudah dilatih Ibu semenjak saya kecil. Walaupun saat itu ibu tidak pernah bilang, karena bagi Ibu mengajarkan kemampuan berkomunikasi dengan baik semenjak kecil sangat perlu.

Berbeda dengan kebanyakan orang tua sekarang yang tidak memperhatikan dengan tingkat kembang anak dan penanaman nilai-nilai positif. Bagi wanita karier menjadikan kesibukan sebagai alasan untuk meninggalkan kewajiban  mendidik anak dengan sebaik-baiknya. Seandainya mereka tau betapa sibuknya Ibuku maka itu tak menjadikan alasan untuk meninggalkan mendidik anak dengan sebaik-baiknya.

Sekitar pukul  5 pagi biasanya saya sudah berdiri di depan patung sapi menunggu bus Solo-Yogya, Ibu selalu menjelaskan kepada saya kenapa  Ibu melakukan sesuatu hal agar saya paham termasuk dalam hal memilih bus. Sebenarnya bukan bus besar saja yang bisa saya tumpangi tapi ada bus kecil juga, memilih bus besar lebih aman dan nyaman untuk saya makanya ibu memilih bus besar. Subhanallah dalam hal sekecil itu pun ibu sangat memperhatikan, sarapan pagi selalu saya lakukan di dalam bus. Kebiasaan ibu selalu menjelaskan alasan kenapa melakukan sesuatu hal itu menular ke saya, dan dampaknya di organisasi saya lebih mudah dalam berkontribusi serta mengajak team bergerak mencapai tujuan yang sama.

Ibu selalu membawa bekal beberapa telur puyuh rebus, karena bagi Ibu apapun yang terjadi sarapan pagi itu sangat penting. Jadi sahabat selain berjualan risoles, dirumahku juga ada peternakan burung puyuh, ayam dan Ikan lele. Makanan favorit saya waktu kecil adalah telur  puyuh dan burung puyuh goreng hmm benar-benar lezat sahabat. Kami akan turun di terminal kartosuro lalu naik bus ‘budhi rahayu’ yang menuju kedesa simbah di dibal, jumlah bus melintas didesaku dulu cukup banyak sahabat. Entah kenapa menaiki bus umum bertemu banyak orang dengan membawa beberapa barang dagangannya menjadi pemandangan asyik bagiku. Karena mayoritas penduduk di desa simbah berprofesi sebagai seorang pedagang di pasar atau di rumah mereka. Desa simbah masih sangat asri sahabat tempat yang sejuk memanjakan mata dan pikiran dari rutinitas pekerjaan, selain itu mayoritas penduduknya masih menggunakan sepeda onthel/kayuh, merk sepeda paling banyak saat itu adalah ‘pit jengki phoenix’  sebagai alat transportasi kemanapun. Sekarang hampir tidak ada lagi bus melintas ke desaku, karena begitu cepatnya pertumbuhan pengguna sepeda motor  hanya tinggal angkot 08 warna kuning yang masih bertahan. Angkot ini memiliki jalur terpanjang dari semua angkot, nanti suatu saat akan saya ceritakan sahabat pengalaman berangkat sekolah ke SMA naik angkot secara sembunyi-sembunyi, berangkat jam 5.45 sampai sekolah 06.50 tapi pengalaman yang seru sahabat. Cobalah semuanya maka akan kau temukan pelajaran berharga didalamnya.

Dari terminal kartosuro naik bus menuju desa berhenti di pertigaan ngemplak  menuju rumah nenek masih dilanjut lagi dengan jalan kaki sejauh 1 KM, setiap hari saya selalu olahraga kaki sahabat dan itu menyehatkan🙂  . Terkadang kalau lagi ngambek atau capek jalan saya hanya duduk jongkok di pinggir jalan, akhirnya Ibu harus merayu saya agar mau kembali berjalan. Hidup di desa sangat menyenangkan silaturahmi sangat erat terjaga, terkadang saya dan ibu dapat tumpangan orang sehingga tak perlu capek-capek berjalan kaki.  Sahabat.. saya baru menyadari dengan kegiatan rutin ini ternyata Ibu sedang mengajarkan saya menjadi anak yang sabar dan tangguh menghadapi semua cobaan. Bisa saja ibu menggendong saya atau menaikkan saya kebecak, tapi itu tak dilakukan karena Ibu sangat paham betul bahwa kehidupan ini keras hanya orang yang keras pada dirinya sendiri yang akan menang. Banyak orang tua yang terlalu sayang kepada anaknya sehingga terlalu memanjakannya , sehingga tak menyadari sedang  mematikan potensinya menghadapi hidup dan akhirnya dia tumbuh menjadi seseorang yang kerdil menghadapi kehidupan dunia ini.

 

Setiba dirumah simbah ibu langsung bersiap-siap berangkat ke tempat mengajar di simo, taukah sahabat menuju ke simo tidaklah mudah jalannya naik turun terjal penuh dengan batu. Karena SMPN 1 Simo terletak di pelosok desa di kecamatan berbeda  jarak tempuh sekitar 25 KM, itu ibu tempuh dengan naik sepeda motor. Sahaba…t coba bayangkan seorang wanita yang sudah bangun sejak pukul 2 pagi, untuk memenuhi panggilah hati sebagai seorang guru rela menempuh kondisi jalan yang tak mudah dilalui dengan motor. Walaupun rutinitas itu dilakukan setiap hari tapi tak pernah sekalipun Ibu mengeluh. Setiap pulang mengajar Ibu selalu menghadiahkanku cerita-cerita inspiratif sepanjang perjalanan ibu. Cerita yang paling menarik kudengar  saat ibu menaklukan hujan menuju perjalanan pulang. Simo adalah daerah yang gersang dan tak banyak penduduknya , saat itu pun jalanan belum terpasang lampu. Jika saat Ibu pulang hujan turun tetap saja Ibu terjang namun tak jarang juga motor macek dijalan karena busi terkena kubangan air, atau berhenti sejenak di pinggir jalan karena dasyatnya kilat menyambar. Bahkan ibu pernah telat pulang 2 jam karena harus memperbaiki busi motor sendiri di saat hujan turun, saat itu sama sekali tidak ada orang lewat, jauh dari perkampungan maka tak ada yang bisa membantu mau tak mau haru diperbaiki sendiri. Setelah sekian tahun aku baru menyadari sahabat bahwa Ibu ingin mengajariku makna kegigihan dan tak pantang menyerah dengan segala kondisi dan keadaan yang dialami. Bisa saja ibu meninggalkan motor di sekolah, atau menumpang di rumah penduduk sebentar tapi  itu tak dilakukannya, karena tanggung jawabnya untu mendidikku menjadi motivasinya untuk segera sampai dirumah.

Karena bagi ibuku mendidik anak itu adalah tanggung jawab terbesarnya. Setiap tiba dirumah ibu langsung mengevaluasiku dengan kegiatan selama ditinggal ibu dan tak lupa juga menanyakan kepada simbah. Sahaba…t  simbah orang yang mengasuhku semenjak kecil selain ibu, dari simbah saya diajari banyak sedari kecil terutama terutama pemakaian ‘boso krama Inggil’. Simbah selalu meluangkan waktu untuk menceritakan tentang tatakrama orang jawa apa yang dilakukan dan apa yang tak boleh dilakukan, dibelangkang rumah simbah ada kebun, setiap mau ke kebun simbah selalu mengajak saya dan mengajari berbagai hal tentang tanaman. Masih saya ingat sahabat dulu simbah suka menanam pohon koro, ceme, pare, jambu, ubi jalar, papaya dan simbah membolehkanku menanam apapun yang aku suka. Pilihanku saat itu adalah menanam berbagai bunga yang biji dan pohonnya saya dapatkan dari tetangga, saya punya sebuah sepeda kecil dengan sepeda itu saya mengelilingi kampung saat menemukan tanaman bunga yang indah maka spontan saya akan langsung minta bijinya atau pohonnya kepada pemiliknya. Dan pulang dengan perasaan menang karena menambah koleksi tanaman bunga saya, simbah juga mengajari bagaimana cara bercocok tanam agar tanaman tumbuh dengan maksimal. Bahkan nenek juga membuatkan pagar untuk melindungi tanaman bungaku dari berbagai tangan jahil. Lagi-lagi sahabat simbah mengajarkan kepadaku untuk bersikap arif dan bijaksana terhadap alam, karena kata simbah kita mencukupi kebutuhan dari alam maka sebaiknya kita juga menjaganya. Pengalaman yang paling berkesan adalah saat simbah mengajari membuat sarang untuk memancing lebah dari glugu(batang pohon kelapa).

Sambil menunggu dijemput Ayah untuk pulang biasanya saya dan teman-teman menghabiskan waktu dengan bermain atau berkelana. Permainan anak-anak desa sangat banyak kawan jadi kalau kalian ikut tak akan pernah bosan ada singkongan, uding, baksodor, untrakol, kasti, lagentri, benthik, jelungan, buron, dakon, englek, engrang, bethengan,  dll. Pasti kata-kata ini terdengar asing tapi permainan ini popular di kalangan anak-anak desa kawan. Kami selalu melakukan permainan ini dengan anak-anak lainnya sehingga suasananya riuh ramai, dengan melakukan beberapa permainan sebenarnya anak-anak tadi belajar tentang leadership, team building dan manajemen konflik. Semuanya itu mereka pelajari secara alami dari kecil, maka itu sahabat mayoritas orang sukses di dominasi oleh mereka yang berasal dari desa. Kalau sahabat menyadari Rasulullah ketika kecil dibawa kedesa, maka Rasulullah semenjak kecil sudah mendapatkan pengajaran yang baik.

Rumah simbah sangat dekat dengan lapangan sepak bola di pinggirnya banyak pohon randu(kapas) dan mahoni. Jika tidak sedang bermain biasanya saya dan teman-teman menghabiskan waktu dilapangan, entah bermain dengan domba yang sedang digembala, menggoda kerbau-kerbau, mengambil uret(seperti ulat tapi rada besar, ditemui di batang pohon kelapa untuk makanan ayam), atau sekedar mengambil buah mahoni yang pahit. Sungguh kenangan yang manis kawan, bagaimana ibu mendidik dari kecil, simbah yang berbagi banyak ilmu dan bermain dengan teman. Kalau sahabat punya teman dari desa tanyakan saja kemungkinan besar kehidupannya akan sama dengan yang saya ceritakan terutama di bagian permainan dan penanaman nilai tatakrama dari kecil.

Teringat petikan tulisan di buku Tere-Liye berjudul Burlian serial anak-anak amak, kata-kata yang disampaikan ayah ke pada burlian.

“Jika saja kalian tau apa yang sudah amak kalian lakukan untukmu maka sepersepuluhnya pun kau tak akan mampu membalasnya burlian”

 

Suatu saat nanti akan ku ceritakan sahabat bagaimana pembelajaran hidup yang aku peroleh. Biarlah cerita sederhana ini memberikan warna berbeda diantara cerita yang lain. Untuk sahabatku yang berjuang dari desa tak usah malu kawan, orang ndeso itu penuh dengan ketrampilan dan kemampuan. Kelak engkaulah yang akan membukakan dunia dengan mimpi-mimpi besarmu.

Insya Allah disambung kembali, karena pasti sahabat penasaran Mimpi seperti apa yang saya sebagai wong ndeso. Akan saya ceritakan juga bagaimana perjuangan sekolah ke SMP dengan jarak 12 KM dengan sepeda kayuh.

to be continued

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s