Manusia Atau Kodok??

Selingan sambil mengerjakan T*, ketemu pembahasan bagus dan unik.

 

Konon seekor kodok akan tetap tenang dan diam didalam panci yang pelan-pelan dipanaskan diatas tungku api. Dia akan “menikmati” suasana yang mengancam itu, sedikit demi sedikit. Ketika situasi panci sungguh-sungguh telah panas ia tidak akan meloncat. Tahu kenapa? Karena ia sudah mati. Jangan bertanya kenapa ia tidak meloncat saat panci mulai menghangat. Itu fenomena alam yang mengherankan kenapa ada makhluq yang diam saja padahal situasi disekitarnya bagitu berbahaya? Kita mengerti kenapa ia layak mati akhirnya, tapi kita tetap menyayangkan penyikapannya. Tidakkah radar keamanan diaktifkan? Tidakkah kulitnya dapat merasakan lidah-lidah api menusuk-nusuk tubuhnya?

 

 

Lain halnya bila kita memanaskan panci lalu menceburkan kodok kedalamnya. Ia akan meloncat, kaget dan langsung bereaksi dengan cekatan. Perubahan suhu yang ia terima terlalu signifikan sehingga  ia segera sadar nyawanya terancam.

 

 

Tapi bagaimana bila semua kodok harus dihadapkan pada panci yang diam-diam memanas? Apakah itu berarti mereka memilih mati sebelum kematian datang? Tidakkah mereka ingin mengoreksi sikap-sikap riskan kaumnya? Tidakkah mereka melihat betapa banyak kodok lain telah termakan pilihan perilaku sejanggal itu?

 

 

JAWABANNYA SEDERHANA KARENA MEREKA KODOK, MEREKA TIDAK BISA BERFIKIR.

 

 

Tragedi yang terjadi serasa tidak terlalu menyedihkan. Mereka para kodok jelas tidak pintar membangun hubungan emosi dengan kita para manusia. Sehingga kematian mereka tidak menyinggung atau menganggu perasaan kita sama sekali. Bahkan ada dari golongan kita yang menjadikan mereka makanan dengan racikan bumbu tertentu atau lantaran berharap khasiat yang terkandung didalamnya. Dengan sendirinya, kisah kematian para kodok diatas panci yang memanas perlahan adalah catatan yang unik, namun tidak perlu terlalu ditanggapi serius oleh manusia.Ya, mereka memang mati. Lalu kenapa? mereka itukan kodok. Itu sudah menjelaskan lebih dari cukup bukan?

 

 

Bagi para penanti ekspresi, jelas ujung situasi ini tidak diharapkan. Dimana mimik kaget yang memaksa mulut terbuka? Dimana mata-mata yang mendelik? Dimana rasa iba yang mendalam.

 

 

Tentu tidak ada. Salah sendiri memilih kodok sebagai kajian utama.Mungkin kasusnya akan berbeda bila kita bicara manusia, tapi benarkah?

 

 

Sejarah mencatat kematian-kematian manusia yang disebabkan oleh”memanasnya panci perlahan-lahan” dan diiringi dengan sikap acuh tak acuh oleh para manusia itu sendiri, sebagai suhuf-suhuf yang tidak penting untuk dikagumi. Perkaranya jelas: untuk apa mengidolakan manusia yang meniru kodok? Manusia bukan Kodok.

 

 

Manusia dapat berfikir, bisa bertindak, kulitnya jauh lebih sensitif, intuisinya jauh lebih tajam. Jiwanya peka dengan situasi, jika ia memilih tetap diam maka ia tidak jauh lebih pantas dari kodok. Ia jauh lebih layak tidak ditangisi daripada kodok. Manusia seperti ini jelas membuat para kodok merasa bukan makhluq paling bodoh sedunia.

 

 

Akan tetapi, benarkah ada manusia yang seperti itu?

 

 

Wahai para manusia yang terlanjur ingin menjadi kodok didalam panci, dengarlah peringatan yang bergolak disekililing kita. Apakah kau merasakan ada desir-desri bahaya? Apakah kau merasakan ancaman yang mengerikan tengah bergerak menuju padamu atau mungkin tengah membakarmu? Ada krisis yang kini tengah menimpa dunia kita, panci kita. Lihatlah dan renungkan: Apakah kau pantas diam saja dengan panas yang mengeskalasi ini?

 

 

Mungkin sekelebat kita berfikir analogi diatas sama sekali tidak cocok, kita bukan kodok. Dunia bukan panci yang teronggok diatas tungku api. Kita dapat tetap diam tidak, tidak berbuat apa-apa. Kita bisa selamat, selagi kita tetap pada jalur yang tidak mengganggu siapa-siapa.

 

 

Namun, itu asumsi yang dihadirkan untuk menentramkan dada saja. Kita, bagaimanapun tengah menyaksikan parade besar peringatan memanasnya panci tempat kita tinggal. Kebobrokan terjadi dimana-mana, kerusakan dipuja dan dihingar-bingarkan. Semua menuju kehancuran dan mereka senang hati melakukannya.

 

 

The ring, deep impact, atau inconvinient Truth Al Gore pun sanggup melakukannya. Ini bukan belaka tentang kekhawatiran, ini adalah harapan yang muncuk malu-malu dari pengungkapan keadaan. Tidak ada gunanya menakut-nakuti kodok di dalam panci yang memanas selain berharap ia bisa meloncat segera. Menyelamatkan dirinya, memberitahu para sahabat, kerabat, dan kodok-kodok lain bahwa panci diatas tungku telah disiapkan untuk membunuh mereka pelan-pelan. Mereka tidak akan bisa dan mau menghindar selagi menganggap panci-panci itu bukan sesuatu yang pantas ditakutkan.

 

 

Akan tetapi, kalaupun para kodok itu telah diingatkan bagaimana caranya mereka”mengenali” panas yang merambat menggerogoti nyawa? Bagaimana caranya mereka mampu mengenalinya dan punya kekuatan untuk meloncat? Butuh kemampuan khususkah? Butuh keajaibankah? atau dengan menjadi kodok adalah jawaban dari semua masalah ini?

 

 

Manusia, kita selalu punya sesuatu yang bisa kita gunakan untuk menghadapi tantangan yang ada. Masalahnya, kita sering mencecoki kepala kit adengan omongan semelenakan “tidak ada apapun yang terjadi di dunia ini, semua baik-baik saja”. Inilah yang memadamkan kewaspadaan. Inilah yang meredupkan kekuatan yang siap berpijar menerangi hitam yang menelan.

 

Diambil dari buku “JIWA-JIWA GAGAH YANG PANTANG MENYERAH”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s