Berawal dari BEKAM

Adakah yang masih asing ditelinga kita tentang kata “bekam”???. Baiklah akan saya jelaskan agar nyambung ketika membaca tulisan ini.

Bekam atau hijamah adalah teknik terapi atau penyembuhan dengan jalan membuang darah kotor (racun yang berbahaya) dari dalam tubuh melalui permukaan kulit. Adapun ia -bekam- tidak hanya bermanfaat sebagai suatu usaha yang dilakukan untuk suatu penyembuhan, lebih dari itu, rutin melakukannya insyaAllah akan memberikan dampak positif dalam upaya pencegahan penyakit dalam rangka menjaga kesehatan.

Perkataan Al Hijamah berasal dari istilah bahasa arab : Hijama (حجامة) yang berarti pelepasan darah kotor. Sedangkan dalam bahasa Inggris disebut dengan cupping, dan dalam bahasa melayu dikenal dengan istilah Bekam. Di Indonesia dikenal pula dengan istilah kop atau cantuk.
Bekam merupakan pengobatan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, sebagaimana dijelaskan dalam hadist Bukhari:
Dari Ibnu Abbas r.a. Rasulullah bersabda : “Kesembuhan (obat) itu ada pada tiga hal: dengan minum madu, pisau hijamah (bekam), dan dengan besi panas. Dan aku melarang ummatku dengan besi panas.” (Hadist Bukhari)
http://al-hijamah.blogspot.com/2008/08/tentang-bekam.html

Salah satu metode pengobatan yang sekarang mulai dikenal banyak orang. Saya akan menshare berbagi perubahan yang didapatkan setelah mengikuti sunnah Rasul ini.

Ketika memasuki kampus ini, diri lebih intensif berinteraksi segala sesuatu yang berlandaskan islam. Saat tingkat pertama nilai yang saya dapatkan kurang memuaskan, hal ini terjadi karena kondisi fisik yang sering tidak bersahabat dengan keadaan kesibukan kuliah.

Maklumlah dulu sewaktu SMA saya hidup serba teratur dan serba terjadwal, ketika kuliah disini semuanya berubah total. Perubahan dari jadwal tidur dan makan, bergesernya dari jadwal rutin memberikan efek luar biasa buruk terhadap kondisi kesehatan. Karena kebiasaan yang serba acak kadut ini hampir setiap pekan saya begitu rajin bersilaturahmi ke dokter, ada-ada saja sakitnya. Mulai dari pusing, lemes, panas, batuk dan kawan-kawannya.

Puncaknya saya terkena typus saat tingkat satu, betapa tidak nyaman untuk beraktivitas. Tapi tetap saya paksakan untuk beraktivitas, saya menolak dirawat karena sudah kapok dulu smp pernah masuk rumah sakit. Typus ini sangat menganggu keseharian saya, demam datang sesukanya hingga membuat pusing-pusing dan lemes bahkan saat ujian. Pengalaman pertama kali ikut ujian susulan karena sakit (belajar materi UTS dan UAS).

Kondisi ini berlangsung hingga tingkat kedua, sudah satu tahun beradaptasi sehingga jadwal pekanan ke bu dokter bisa dikurangin. Namun ada nikmat baru yang Allah berikan, yaitu nikmat sakit kepala yang luar biasa dasyat tanpa panadol extra saya tak bisa beraktivitas jika pusing menyerang. Dalam sehari saya bisa menghabiskan 2-4 tablet panadol extra.

Sampai pada suatu hari saya diajak salah seorang kakak angkatan atas untuk menemaninya ke klinik bekam. Saat itu saya hanya mengantarkan saja, agak ngeri membayangkannya karena saya agak alergi dengan benda bernama jarum. Saya sempat ditawarin untuk bekam saat itu, tapi saya menolak lain kali saja pak(dalam hati kalo inget). Kakak tadi menceritakan pengalamannya ketika bekam dan perubahan yang dirasakannya(membuat saya berfikir ulang untuk mencoba bekam).

Penyakit typus belum sembuh total, sehingga menganggu kenyamanan dalam beraktivitas. Setelah liburan semester 3 saya mencoba untuk bekam, tidak ada salahnya mencoba dan saya mulai bosan dengan pengobatan medis yang tak kunjung memberikan hasil memuaskan.

to be continued.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s