Tebak-Tebak Berhadiah Kursi (Kemacetan di Bandung)

Kamis 7 september 2010 aku ada janji untuk kekamda. “Hmm bakal menjadi  hari yang penuh pelajaran” gumanku dalam hati. Agenda telah terlaksana, sekitar pukul 4 hujan mulai turun begitu derasnya. Sambil menunggu hujan reda saya melanjutkan untuk diskusi tentang beberapa permasalahan, tak terasa jarum jam pendek sudah menunjuk ke angka  5.40  hujan masih belum reda. Terpaksa kita harus pulang dengan berbasah-basah ria.

Keluar dari Kamda menuju jalan Ahmad Yani suasana masih lancar, berjalan pelan menuju matahari cicadas untuk memotong jalur menuju Kiara condong. Walaupun hujan turun tapi bandung tetap saja dijejali kendaraan pribadi yang semakin menambah suasana yang ruwet. Dengan hati-hati menuju ke jembatan laying untuk menghindari kemacetan. Semakin jauh melesat mendekati lampu lalu lintas. Kegaduhan mulai terjadi, mobil pribadi, bus, angkot, motor dan becak semua bertemu dalam satu titik. Di tambah lagi banjir di sana-sini, dan becek menimbulkan resiko kecelakan tinggi. Karena sudah tidak tahan dengan dingin saya ikut saja nyelip sana-sini biar cepat sampai tujuan.  Saya masih bisa memacu kecepatan motor sekitar 40-60 km/jam menyibak  di tengah lautan kendaraan yang salin berebut jalan.

 

Suasana semakin miris ketika mendekati lampu lalu lintas dekat carefour, kemacetan begitu panjang. Mobil saling mengklakson tanda meminta mobil didepannya untuk berjalan. Bagaimana mau berjalan? Bergerak saja susah padahal lampu telah berubah menjadi hijau. Seharusnya mobil di depan segera bergerak, ada apakah ini???. Ternyata disebelah kanan jalan terjadi banjir setinggi ban sepeda motor, banyak kendaraan mogok dan air masuk ke bangunan di pinggir jalan. Selain banjir yang memperlambat jalur, kendaraan dari arah leuwi panjang menuju cibiru terus menerobos walaupun lampu sudah merah, sontak saja membuat geram pengendara di depan dan belakang saya. Menggelengkan kepala berulang kali melihat kondisi ini.

 

Bukan kah  setiap hujan deras datang banjir akan menyambut. Padahal kita sudah membayar  pajak, retribusi dll. Tapi kenyataannya kualitas pelayanan public tidak sebanding dengan uang yang kita keluarkan. Selama ini tidak ada transparasi dari pemerintahan kota, kejadian ini sudah terjadi berulang kali. Karena sudah terbisa hidup dengan tata kota yang menyusahkan, warga pun hanya diam. Mereka tau suara mereka tidak akan didengarkan para pejabat, karena pejabat telah menyumbat telinga mereka dengan headphone berlagu dangdut “keong racun” ckckck. Sudah menjadi budaya laten untuk menguras rakyat , kalau pemerintah serius cukup dua tahun di awal kepemimpinannya masalah ini bisa terselesaikan. Namun kenyataannya malah sebaliknya, dan kondisinya semakin bertambah parah.

 

Untuk menyelesaikan masalah kemacetan dan banjir, ada banyak aspek yang perlu dipertimbangkan. Di bawah ini saya berikan gambaran model konseptualnya

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s