Anak Jalanan Punya Harapan

Hari ini saya ada agenda penting di suatu daerah dengan jarak kurang lebih 30 KM. Perjalanan ini ditempuh dengan sepeda motor, bersama adik mentoring saya. Selain jarak yang lumayan jauh disertai medan yang dilalui lumayan berat, membuat saya agak pusing karena memang saat menyupir(saya didepan) badan sedang demam. Namun saya tak mau menjadi alasan tidak berangkat, asalkan kaki masih bisa melangkah.

Menurut adik mentor saya acara akan selesai sebelum dhuhur. Dalam hati saya bersyukur bisa segera istirahat, saya khawatir demam akan menjadi lebih hebat. Akibatnya akan menghambat aktivitas saya yang lainnya.

Setiba di lokasi pukul 10 lebih, acara demi acara telah dimulai. Perlu pembaca ketahui, saya sedang berada dilokasi anak jalanan di daerah ciroyom.
Ditempat ini berdiri sebuah rumah belajar untuk anak-anak jalanan. Ya..anak-anak yang berpenampilan kumal yang suka berkeliaran dijalanan sebagai pengamen, juga anak-anak yang berpenampilan menyeramkan(punk) yang sering kita pandang sebelah mata.  Bersama teman-teman KAMSAT Telkom, KAMDA BANDUNG serta beberapa mahasiswa ITB duduk disebuah ruangan belajar sederhana. Bertemankan bau sampah yang menyengat (sampai saya tidak tahan dan ingin muntah) dan suara kereta api lewat ,  menjadi teman belajar sehari-hari anak jalanan.

Kita sering mengucilkan mereka, sering memojokkan mereka.  Menjadi anak jalanan bukanlah pilihan mereka, karena ketidak pedulian kita terhadapa nasib mereka untuk menyambung hidup menjadi anak jalanan menjadi pilihan yang pahit. Anak-anak jalanan memiliki masa depan gemilang, tak ubahnya seperti kita. Mereka butuh dorongan dari orang-orang yang memahami kondisi mereka, bukan dengan dijauhi dan dikucilkan. Selain itu mereka memiliki hak yang sama seperti kita, memiliki hak sama untuk diperlakukan secara adil. Walaupun tampang mereka seperti preman tapi hati selembut sutra(hehehe..ilustrasi red).

Kami ditunjukkan tempat-tempat spesial mereka. Tempat belajar di loteng pasar, tempat ngariung di parkiran motor/mobil, tempat bermain di lantai paling atas. Tapi anehnya anak-anak jalanan ini dilarang belajar di masjid dilantai paling atas. Karena mereka kotor so pemilik masjid tidak mau masjidnya menjadi kotor. Ehm jaman sekarang orang berlomba-lomba membangun masjid, bukan berlomba-lomba memakmurkan masjid. Walhasil banyak masjid yang bagus penuh dengan oranmen namun sepi dan jauh dari kegiatan yang mendekatkan kepada Allah.

Bersentuhan langsung dengan mereka , memacu kesadaran saya bahwa kita harus terus berbagi. Entah itu dengan anak jalanan maupun orang yag kurang mampu. Karena harta yang Allah titipkan ke kita ada bagian untuk mereka. Bukan hanya itu yang paling penting kita harus mau berbagi ilmu. Kata mama “Lebih baik nyangoni ilmu daripada nyangoni harta, harts isoh entek tapi ilmu ra bakalan entek” translatenya “Lebih baik memberikan warisan ilmu daripada warisan harta, karena harta bisa habis sedangkan ilmu tidak akan pernah adda habisnys”.

Mendidik generasi muda adalah tanggung jawab kita bersama, tidak usahlah terlalu jauh untuk mengaplikasikannya. Liat aja kanan kiri kita, adakah orang atau anak yang perlu kita bantu. Kalau mahasiswa mungkin tebentur dengan kocek yang sering bolong, kita bis a membantu dengan ilmu yang kita miliki. So kalau ingin berbagi jagan menunggu kaya keburu mati dan keburu nyesel dikuburan lohh……

Satu lagi kenyataan yang semakin menambah optimis saya, seburuk apapun akhlaq manusia insya Allah bisa berubah dengan izin Allah dan ikhtiar kita. Ketika saya di ajak untuk berkeliling melihat tempat-tempat yang sering mereka singgahi, ada sebuah sikap santun yang luar biasa ditunjukkan kepada kami.

Kita bayangkan berapa sech penghasilan mereka dalam sehari?? kata yudi sekitar 10.000 itu habis untuk membeli makan. Saya terharu ketika saya menyinggahi tempat bermain mereke, ada satu anak jalanan yang memberikan saya permen. Hati saya tergetar, bisa dibilang hidup mereka susah tapi mereka sangat suka berbagi. Bahkan saya tidak hanya diberikan satu, tapi segenggam permen. Kalau tidak banyak orang waktu itu, sudah pasti saya akan menanggis merasakan kedermawanannya.

Mereka sering ngamen berhari-hari hanya untuk membelikan hadiah sebuah coklat kepada salah satu pengajar. Subhanallah kedekatan yang luar biasa bukan? belum tentu saya bisa😦 .

Pakaian yang mereka pakai pun seadanya, bisa dibilang jauh dari sifat layak. Ehmm jadi terfikirkan baju bekas di kampung halaman..

Tulisan ini spesial saya hadiahkan untuk anak jalanan yang terus berusaha melanjutkan hidupnya “Keep fighting” dan teman-teman yang peduli dengan meraka “Allah yang akan menggantikan dengan syurga atas jerih payah kalian amien…”

Sekelumit kisah anak jalanan, masih ada beribu kisah-kisah lainnya yang tertimbun oleh pasir ke egoisan kita.

waallahu’alam bi showab
4 agustus
11.00-12.29

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s