Ketika Hidayah Menyapaku (Part 1)

Berkecamuk rasa dalam hatiku
Aku membuat kesalahan dengan kekasihku Allah, hatiku merasa kacau, pikiranku tidak nyaman jiwaku tidak tenang. Aku hanya ingin meraih kembali ampunan,cinta,hidayah dan pertolonganNya. Karena aku tau betapa merananya hidup ini jika hidupku tidak dihiasi oleh Cinta Ilahi.Seperti pada masa-masa jahil ku duu, aku merasakan dunia ini sepi, aku merasakan aku sendirian, aku merasakan tidak ada yang mampu mengisi kekosongan hatiku. Hingga saat itu aku mencari pelarian kemana-mana. Aku mencari teman yang bisa membuat aku hapy, dan aku juga berusaha untuk mencari pacar. Astagfirullah rasanya ingin menangis jika ingat diriku yang dulu.

Aku yang benar-benar cuek dengan islam, aku yang menganggap orang-orang yang belajar agama itu orang kupel ga gaul. Namun akhirnya Allah menurunkan pertolongan padaku, seolah semua pemikiranku dirubah 180 derajat. Sekarang aku merasakan sangat damai,tenang nyaman dan bahagia dengan islam sebagi jalan hidupku. Aku tak perlu mencari-cari lagi kebahagiaanku karena Allah telah cukup bagiku.

Roda telah berputar, aku putuskan untuk menyemplungkan diri dalam perjuangan islam ini, aku mulai merubah semua kebiasaan buruk ku sedikit demi sedikit. Ternyata sangat menyenangkan.

Sekilas napak tilas kehidupanku masa lalu. Aku masih ingat buku yang pertama kali aku baca sehingga membuatku tersadar dan menangis atas apa yang aku lakukan selama ini. Buku yang dipinjamkan dari teman SMA berjudul “Renungan Qolbu” waktu itu kata-kata yang mampu membuatku menangis hingga menyadari kesalahanku adalah “hidup ini seperti lampu jika minyaknya habis maka kan lenyap”. Aku tertunduk dan menangis karena selama ini aku tak menyadari bahwa suatu saat aku akan mati. Setelah mati aku harus mempertanggungjawabkan semua perbuatanku, namun hanya dosa yang kumiliki  hal itu semakin membuatku ingin bertaubat meninggalkan masa lalu kelamku. Aku azamkan untuk mengganti lembaran kehidupanku, aku putuskan untuk memulai dari nol lagi aku ingin yang aku lakukan atas petunjuk Allah, aku sangat hati-hati dalam bertindak disegala hal karena aku tidak ingin menjadi orang yang tersesat dilautan maksiat atau terjatuh dalam kubangan dosa.nikmat ini. Aku belajar bertutur kata yang lembut, tidak menyakiti yang mendengarkan ucapanku. Aku belajar untuk meredam emosiku karena dulu aku orang yang temperamen banget , aku menyadari marah tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Aku juga belajar tidak membicarakan keburukan orang lain, karena bagiku itu sama saja memakan daging saudarku sendiri. Aku serasa ingin menjadi orang yang penuh manfaat, disisa hidupku aku ingin memberikan yang terbaik. Karena aku tak pernah tau kapan aku mati, aku selalu ingin berusaha menjadi yang terbaik.

Sedikit-demi sedikit kehidupanku berubah, dari segi pendidikan, ekonomi, sosial, keluarga. Semuanya semakin mudah ku gapai, keluargaku semakin harmonis dan bahagia. Inikah berkah dari islam itu???
ini hanya setitik kebahagiaan yang Allah berikan, masih ada lautan nikmat yang akan Allah tumpahkan jika aku terus berusaha menjaga diri ini dalam barisan islam, dalam barisan orang-orang yang ingin Menjadikan islam Rahmatan lil’alamin😉

NB:diambil dari catatan seorang ukhti yang tidak ingin disebutkan namanya. Semoga beliau diberikan kekuatan iman dan akhir hidup yang khusnul khatimah. Silahkan jika ingin disebarkan ke yang lainnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s