Merasa Bisa dan Mampu

Merasa Bisa dan Mampu

Ini adalah kisah saya sendiri, bagaimana saya merasa Bisa dan Mampu. Eh jadi kebalikan ya kayak para motivator bilang.
Kamu Bisa! Kamu Mampu! mirip acar motivasi yang saya ikutin dulu kala.
grub duagrub satu

Sering tanpa sadar keberhasilan disandarkan dengan ikhtiar dan kecerdasan strategi 😁. Habis dapat kejadian yang menghentakkan, kalau ada temen yang bilang rugi tuh duit 50 juta, pernah juga rugi tuh 450 juta.

Tapi saya berfikir Allah sedang menahan rezeki saya,saya tidak berfikir saya sedang rugi .Saya berkeyakinan bahwa gampanglah bagi Allah menahan atau melancarkan rezeki.

Dan Benerrr ternyata Allah memberikan rezeki dari arah lainnya😭, ini Allah baik syekalii. Dari rezeki inilah, saya bisa mulai melunasi hutang 450 juta sampai lunas dan masih ada sisa nya bisa digunakan untuk muter usaha lagi

Nah, pasti penasaran ya? Ko bisa kayak begitu. Trus stress ga, atau kapok ga? atau udah menyerah?
open reseller

Nah yang ini memang tanpa sadar, tanpa sadar ya 😂. kalau sadar mah ga akan dilakuin 😁. Menyandarkan dan Pede dengan strategi usaha yang dibuat, yakin buangeett bakal sesuai ekspetasi, soalnya semua strategi sempurna udah terkonsep, yakin seyakin-yakinnya sampe udah berandai-andai nanti bisa buat ini dan itu.

jreng-jreng-jrengg pas eksekusi jauh dari ekpetasi, langsung lemes . Baru sadar ternyata saya bersandar dengan Ikhtiar, bersandar dengan segala upaya usaha, berkeyakinan bahwa kalau segala strategi sudah maksimal dilakukan maka hasilnya akan sebanding.Miriplah dengan matematika manusia bahwa satu ditambah satu sama dengan dua.

Dan melupakan matematika Allah bahwa satu tambah satu belum tentu dua, bahkan bisa jadi nol atau minus.
kata mutiara
Menyandarkan hasil pada ikhtiar bagaimana mengetahuinya? Salah satu cara yang saya gunakan adalah, ketika sesuatu hal yang saya lakukan tidak sesuai dengan yang diharapkan muncul kecewa dan kecewa. Maka, tanpa sadar sebenarnya saya menyandarkan hasil pada ikhtiar.

Tapi ketika hasil yang saya harapkan tidak terjadi, hati masih adem, tenang, calm aja dan tersenyum bersyukur. Bisa jadi ini menyandarkan pada kuasa Allah.
.
.
.
.
Gimana tetep bisa memiliki hati yang adem, ridha, ikhlas dan tersenyum saat apa yang diharpakan tidak terwujud.
ngeyel itu perlu, kalau ngeyelnya karena yakin akan berhasil. ngeyel ini akan menjadi tenaga untuk terus bergerak walaupun rintangan menghadapng
Kalau sudah begitu, rasanya hidup enakkk banget. ga perlu ada khawatir, ga perlu ada baper, dan ga perlu ada perasaan lain yang bikin ga nyaman

Alhamdulillah, sudah saya share disini

Alhamdulillah Allah baik syekali menyadarkan saya kalau salah. Langsung banyak-banyak minta Ampun, ikhlas dan pasrah.

Setelah ikhlas dan pasrah menerimanya, ALlah datangkan banyak bantuan dan jalan untuk menyelesaikannya😚.

Saya bener-bener belajar sekarang apapun ga boleh pede dan yakin dengan ikhtiar, tetep ikhtiar dengan maksimal 🤭 tapi perasaan dan keyakinan bahwa segala kekuatan dari Allah. Bahwa semuanya Allah maha segalanya, lahaula wala quwata illa billahil aliyil adzim.

Bagaimana caranya membuat agar bisa memiliki hati yang tenang dan bahagia apapun kondisinya. Bagaimana sih bisa bahagia tanpa syarat?

Alhamdulillah dengan belajar memiliki hati yang adem, bebas dari rasa marah dan kecewa membuat saya terus bisa maju walaupun pernah tertahan rezekinya(kata orang rugi red). Hati yang adem akan memunculkan positiv feeling, kerennya positif feeling ini jauh lebih efektif daripada positif thingking. Nanti ujungnya akan muncul perasaan bahwa apapun yang terjadi kita berada dalam keadaan yang baik dan Allah maha baik.

Saat tertahan rezekinyaa, saya sempat lemes selems-lemesnya dan tanpa sadar sesaat merasa “yaudahlah, kayaknya ga da harapan”. Lagi-lagi Allah baik syekalii, saya disadarkan bahwa tidak boleh berputus asa dengan rahmat Allah. Ditambah dengerin kajian dari UHA jadi bikin tambah adem di hati.

Saya evaluasi diri, saya mohon ampun dan maaf jika ada prinsip dan perasaan yang salah. Dan saya mengazzamkan untuk memperbaiki prinsip yang salah. Apapun yang sudah dilakukan tetap lahaula wala quwata illa billahil aliyil adzim. Sepandai apapun saya mengkonsep, sebanyak apapun SDM yang saya miliki atau malah sebaliknya. Bahwa saya tak punya apapun, tak memiliki branding yang bagus dan bla bla bla yang lain.

Bahwa Allah punya kuasa, Allah bisa melakukan apapun dan Allah bisa memberikan apapun.

Untuk merealisasikan janji kepada ALlah, bahwa saya tidak akan berputus asa dari rahmatnya maka lahirlah SaraZa dan Faza. Dengan produk pertama Linaas, apa itu Linaas dan kenapa diberikan nama linaas bisa kepoin SaraZa open reseller

Untuk SEFT silahkan hubungi Lumina

Pendaftaran Reseller silahkan hubungi SaraZa

Iklan

Karena kita salah memahami keinginan Ibu yang sederhana

Dalam hadist nabi menyebutkan bahwa “Surga dibawah telapak kaki ibu” dan berbakti kita kepada ibu tiga kali baru kepada Ayah. Ini menunjukkan betapa luar biasa peran seorang  ibu dalam melahirkan dan mendidik anak-anaknya. Bahkan setetas air susu ibu yang kita minum tak bisa kita balas.

Lalu bagaimana peran berbakti kita kepad ibu?

Pernahkah kita menyadari bahwa dalam perjalanan hidup ini, sering salah memahami keinginan Ibu yang begitu sederhana?, misal : keinginannya untuk ditelfon seminggu sekali, sesekali pulang, dll.

mungkin karena begitu sederhana, sering kita menghiraukannya, dengan berbagai alasan yang kita sampaikan, entah lagi sibuk dengan kerjaan, jarak yang jauh, deell alasan lain yang sudah kita siapkan. Seorang ibu tetaplah ibu, dia tidak akan pernah meminta hal yang berat, dan bahkan tak ingin memberatkan anaknya. 

Mari kita renungkan kembali, sudah berapa usia Anda sekarang? sudah berapa banyak kita membuat Ibu tersenyum bahagia? ataukah sudah berapa kali kita membuatnya menitikan air mata, gundah dan bersedih? berapa lama lagi kira-kira usia ibu kita?

yahh…ternyata kita jauh lebih banyak membuatnya bersedih dalam diam, menitikkan air mata dalam sepi hanya karena kita tak bisa memahami keinginannya yang sederhana. 

 

Ada sebuah kisah, seorang anak yang memiliki cita-cita untuk berkeliling dunia, dia bersikeras untuk mewujudkan keingiannya itu. berbagai usaha dia coba, mengikuti berbagai karya ilmiah, mengikuti berbagai perlombaan dll. Namun ibunya yang sederhana menginginkan anaknya untuk bekerja saja, karena beigtu sederhana keinginannya sang anak menganggap itu permintaan yang bisa ditangguhkan. 

HIngga pada suatu hari, sang anak tersebut tak kunjung bisa berkeliling dunia, padahal semua usaha telah dicobanya. Dalam kesendiran dia menangis, menangis karena usahanya sia-sia. Dalam kesedihan dan keputusa asaan, dia teringat wajah ibu, dia teringat keinginan ibunya yang sederhana. 

Seketika itu juga air mata membanjiri wajahnya, betapa selama ini dia tidak menyadari bahwa telah durhaka kepada Ibunya. Ibunya yang talah 30 tahun merawatnya, bahkan rela mengorbankan keinginan dan cita-cita pribadinya hanya untuk membesarkannya. Kini dia telah dewasa, ibunya hanya meminta 1 hal sederhana namun dia tak ingin mewujudkan karena memiliki keinginan lainnya. Betapa dia menyadari telah keegoisan dalam dirinya, bahwa mewujudkan keinginan Ibu adalah sebuah pekerjaan yang mulia.

 

sahabat kisah ini mengajarkan kepada kita, bahwa terkadang kita sering salah memahami keinginan ibu yang sederhana. Mungkin kita belum merasakan menjadi orang tua, sehingga kita tak mampu memahami perasaannya. Dalam perjuangannya membesarkan kita, begitu banyak Ibu mengorbankan keinginan pribadinya agar kita bisa tumbuh dengan sempurna. Maka selagi Ibu masih bernafas, maka penuhilah keinginaannya selama itu tidak menyalahi syariat. Letakkanlah ambisi pribadimu dan utamakanlah keinginannya, sebagaimana dulu Ibu meletakan keinginan pribadinya demi memenuhi keinginan kita. Jika suatu saat, kita menjadi orang tua maka kita harus berlapang dada karena akan banyak keinginan pribadi kita yang akan kita lepaskan dan akan kita utamakan segala hal untuk menjadikan buaah hati kita tumbuh dewasa dan memberikan banyak manfaat. 

 

Kenapa sich milih MBA?

Kuliah pagi ini dibuka dengan pertanyaan sederhana namun jawabannya butuh meditasi 😀

 

Pertanyaan yang disampaikan oleh Pak Hadi dulunya dekan IPMI  (http://ipmi.ac.id/)sekarang sedang mengajar sebagai dosen di MBA ITB.

 

Berbagai jawaban muncul berbeda-beda dari teman-teman sekelas saya, diantaranya :

1. Karena bos-bos sukses kuliahnya di MBA , oleh Pak Hadi dijawab “apa sih sebenarnya makna ikhlas? kalau ukurannya dunia, maka itu hanya akan berlangsung singkat, namun seiring berjalannya waktu kalian akan belajar tujuan dan motivasi bukan hanya bersifat keduniaan”

 

2. Saya sendiri menjawab karena panggilan hati (yelah :D), karena dulu tingkat pertama saya sudah memiliki cita-cita kuliah s2 nya di MBA, pengennya di Univ Tokyo tapi ga kesampaian, malah jodohnya ke ITB :D. Berdasarkan pencarian jati diri nanti kedepannya saya mau menjadi apa? dimulai dari ikut talents mapping, foto aura dan berbagai event tentang explorasi diri. Dan saya memiliki keinginan membuka usaha. Mau tau apa jawabannya pak Hadi?.

“Ya, karena ingin memiliki usaha maka MBA ini bisa jadi pilihan yang tepat”.

Lalu pertanyaan berlanjut lagi, kenapa sich memilih di ITB? bebrapa teman saya menjawab

1. Karena dijakarta macet

2. Karena ITB itu sebuah mantra yang bisa membuka pintu 😀 hehehe, karena kalau lulusan ITB seperti mudah untuk mengakses resource

3. Networking, banyak lulusan ITB adalah orang yang berkualitas dan ITB itu identik dengan lulusannya yang cerdas.

4. Balas dendam, karena ketika s1 tidak bisa masuk ke ITB, jadi dech S2 nya ke ITB, selain itu mau membandingkan kualitas lulusan dengan ayahnya yang ternyata lulusan kelas eksekutif di IPMI.

Saya baru tau bahwa ada IPMI yang ketika saya googling masuk ke websitenya, wow ternyata sistem edukasinya top dah 😀

Monggo yang mau melanjutkan kuliah lagi, silhakan dipilih jurusan dan universitas tujuannya. Kenapa memilih jurusan itu? dan kenapa harus di kampus tersebut ?

Personal Knowledge Management

Sedikit share tentang PKM, hasil kuliah singkat dengan pak Haitan di MBA ITB #Promosi 🙂

Setiap bisa jadi sudah melakukan PKM, namun tidak menyadarinya dan bisa jadi kurang statistika. Terkadang kita binggung ingin memilih mau fokus dalam bidang apa? contohnya: misalkan saya mau fokus di marketing, maka carilah buku marketing terbaik, lalu kita susun, buat hierarkinya dalam mind map, nah dari mind map ini kita bisa melihat bidang apa yang mau kita perdalam dan fokus. That’s simple but not simple :D. 

 

Saya juga membuat mindmap setelah menikah bersama suami, agar tau arah-rah tujuan rumah tangga kami mau di bawa kemana 🙂 Segede A2 dan di tempel di dinding agar kami selalu ingat kemana arah kemudi dijalankan.

Untuk mempermudah membuat mindMap saya sarankan untuk menginstall program Xmind yang bisa di dapatkan searching di mbah google. 

 

Kuliah S2 ini harus kuat pemahaman :D, karena setiap dosen memiliki pola pikir yang berbeda-beda but it’s fun and enjoy. 

Sukses Terbesar Dalam Hidupku(LPDP)

 Salah satu syarat dokumen pandaftaran yang perlu disertakan ketika mendaftar ke LPDP, butuh waktu yang lama bagi saya untuk bisa menuliskan nya. Semoga bermanfaat 🙂

 

Kesuksesan terbesar dalam hidupku?

Sebenarnya sudah lama saya memasukkuan semua data untuk kelengkapan LPDP namun dibagian essai saya terhenti sejenak. Saya berhenti sejenak untuk kemudian melangkahkan kembali jemari merangkai kata menjadi sebuah essai. Sebuah essai yang menceritakan kesuksesan terbesar dalam hidupku.

Perjuangan yang sangat indah, karena  essai “sukses terbesar dalam hidupku” dari LPDP membuat saya berfikir ulang tentang hidup ini, bahasa kerennya re-engineering atau bahkan re-design hidup. Saya sangat berterimakasih dengan LPDP, dengan adanya essai ini saya terasa bercermin untuk bertanya kepada diri saya sendiri. “Apakah kriteria kesuksesan yang  selama ini saya pegang?”, “Apakah  kesuksesan sesungguhnya?”, renungku. Selama ini, parameter kesuksesan yang saya pegang  yaitu berupa hasil prestasi nyata ataupun suatu karya yang diapresiasi oleh banyak orang.

Saya akan coba bercerita saat saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Ketika saya SMA, pernah mengikuti lomba putra putri PKPP –lomba kepramukaan se-Kota Solo-. Saya mempunyai seorang pelatih. Beliaulah yang kemudian memperbaiki cara berfikir saya agar saya menjadi pribadi yang lebih baik. Masih teringat dengan jelas kata-kata beliau, “Isti, cobalah untuk berfikir sederhana, jangan terlalu jauh dahulu!”,”Lihatlah dengan dekat apa yang bisa kamu lakukan!”. Semenjak saat itu, saya menyadari bahwa benar apa yang beliau katakan.

Kemudian, pengalaman saya berlanjut pada sebuah kejadian di acara training kepempimpinan level 2 Kesaktuan Aksi Mahasiswa Muslim Imdonesia (KAMMI) Daerah BANDUNG. Saat itu, saya merupakan salah seorang dari 3 orang perwakilan daerah Bandung yang dikirim ke Cirebon untuk mengkuti pelatihan kepemimpinan di Cirebon. Di latihan kepemimpinan level dua ini, kami, peserta dibiasakan untuk menyampaikan makalah yang  sudah dibuat sebelumnya sebagai syarat pendaftaran peserta.  Beberapa orang dengan tema makalah yang sama, diminta untuk maju mempresentasikan makalahnya. Saya salah satu dari pihak perempuan yang berkesempatan menyampaikan hasil pemikiran saya, makalah. Peserta lainnya mencermati dengan seksama isi makalah yang saya sampaikan, hingga sampailah pada sesi tanya jawab. Pada saat sesi itulah, ada peserta lain yang menyampikan pendapatnya mengenai solusi untuk masalah di Indonesia. Sebuah ungkapan sederhana namun bagi saya sungguh sarat makna yaitu, “Boleh melangit, tetapi kaki tetap membumi”. Setelah mendengar kata-kata itu dan merefleksikan dengan keadaan diri saya. Saat itu saya menjadi tersadar bahwa saya selama ini masih cenderung melangit tapi kurang membumi. Maka, kemudian saya menjadi berfikir lebih realistis terhadap berbagai tawaran ideal yang ada.

Semenjak saat itu saya terus mencari parameter kesuksesan dalam diri saya, hingga beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang teman dari daerah lain. Dia mengatakan bahwa sukses itu sangat sederhana maknanya, cukup cari saja apa kekurangan dalam dirimu, itu adalah landasan keberhasilanmu. Saya terkesan dengan pribadinya yang sederhana, itu terungkap dari caranya memandang hidup ini, sangat sederhana dan simple. Ini yang saya cari selama ini, karena saya terkadang berfikir kurang realistis, itu penilaian beberapa orang kepada saya.

Dari hal tersebut, makna sukses sebenarnya bagi saya, bukan tentang sebuah prestasi, bukan pula tentang uang ataupun tentang pengakuan orang lain. Sukses menurut saya adalah ketika saya bisa berbuat benar untuk orang lain. Dan sukses terbesar dalam hidupku ketika apa yang saya ucapkan juga saya lakukan.

Saya selalu terkesan dengan orang yang konsisten antara ucapan dengan perbuatannya. Bagi  saya hal itu sangat luar biasa, saya menemukan kebahagian tersendiri dalam hati dengan melakukannya. Karena saya takut kalau saya mengucapkan sesuatu tapi saya tidak melakukannya, Allah akan membeci saya. Ibarat tong kosong nyaring bunyinya atau bahasa gaulnya “omdo” –omong doang-.  Karena setiap apa yang saya ucapkan akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat.

Dan pada akhirnya, menikmati kesuksesan terbesar tidak perlu dengan sebuah pengakuan besar atau menunggu momen yang besar, tetapi cukup menjaga antara ucapan dan perbuatan, maka saya selalu merasa sukses disetiap waktu. Bagi saya mengalahkan keinginan diri untuk selalu terlihat hebat lewat lisan itu sebuah kenikmatan. Sehingga saya merasa hidup ini selalu bahagia dan saya sangat bersyukur dengan hal tersebut. Menjaga ucapan dan perbuatan adalah perjuangan luar biasa bagi saya. Inilah perjuangan untuk meraih kesuksesan terbesar dalam hidup saya, konsisten antara ucapan dan perbuatan.

 

 

 

 

Landasan Organisasi : Cinta Kami Berlandaskan CintaNya

Melanjutkan cerita sebelumnya tentang pelantikan “Organisasi Peradaban”. Kali ini kami ingin menyampaikan betapa indahnya dan menentramkan dunia pernikahan yang dibingkai dalam syariatNya serta cintaNya.

Tulisan ini lahir dari kesadaran begitu banyaknya orang yang membina biduk rumah tangga tanpa pemahaman islam, sehingga rumah yang seharusnya menjadi syurga malah berubah menjadi neraka. Semoga Allah menjauhkan kami dari sifat pamer, mengkomporin, menyakiti hati orang lain, maupun menggurui, karena pernikahan kami masih seumur jagung. Hanya sedikit hikmah yang ingin kami sampaikan. Terutama bagi yang sedang merencanakan pernikahan bahkan berbagi dengan yang sudah menikah sekalipun.

Rumah yang menjadi pondasi paling penting untuk bangsa ini menjadi maju dan besar, tetapi ternyata banyak kisah perceraian dan perseteruan bermula dari rumah. Ini menunjukkan tak terbangunnya rasa sakinah, mawaddah dan rahmah sebagai perwujudan rumahku syurgaku. Maka, tak heran, walaupun Indonesia memiliki jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, tapi moral bangsanya carut marut tak karuan, mencoreng keindahan Islam yang mulia. Semoga kita bisa bersama sama memperbaiki kondisi ini.

Merencanakan pernikahan dan impian  keluarga yang akan dibangun nantinya bukan muncul dalam hitungan sekejab. Ini visi jangka panjang hingga ke akhirat kelak, maka persiapannya pun tak bisa sembarangan. Butuh persiapan secara matang, baik secara pemahaman, mental, finansial dan urgensinya. Dan dibutuhkan pula sikap mau belajar, mau memperbaiki diri. Ini pun salah satu kuncinya. Bayangkan, sisa hidup kita akan dihabiskan dengan orang seperti apa? Bayangkan juga, dalam situasi dan kondisi seperti apa kita akan hidup nantinya? Kita harus persiapkan dengan segala kemungkinannya. Ini asyiknya! Seberapa jauh kita akan berikhtiar, tawakkal, berdo’a akan hal yang telah Allah tuliskan di Lauhul Mahfudz.

Yahh mungkin ini yang membuat beberapa orang takut melangkah untuk menikah walaupun sebenarnya sudah mampu, takut dengan siapa kita akan menjalani sisa hidup kita.  Kamudian, karena tak memahaminya, melampiaskan dengan cara yang menodai kesucian pernikahan itu yaitu dengan pacaran. Ya iyalah ! Bagaimana mau meraih sakinah mawaddah dan rahmah, kalau cara dari awal untuk menggapainya sudah dipenuhi dengan dosa. Wajarlah ketika menikah akan banyak perselisihan.

Hal yang paling penting untuk ditanamkan dan dipegang adalah, sebenarnya untuk apa menikah? hanya untuk menjaga diri? menyempurnakan setengah agama? itu tidak salah, tapi menurut saya dan suami ada yang lebih tinggi lagi. Kami sepakat bahwa menikah adalah perkara ibadah kepada Allah. “Meletakkan Allah di atas segalanya dan bersedia memurnikan segala sesuatu untuk Allah” menjadi landasan kami menjalankan perahu di lautan kehidupan. Bukan pekerjaan yang mudah, namun bukan pekerjaan yang tidak mungkin juga. Ini pekerjaan yang menantang!

Tentu saja menantang, ketika masih single melakukan sesuatu untuk Allah itu sesuatu yang lebih mudah, karena hatinya belum terisi dengan yang lainnya. But! setelah menikah itu berbeda lagi, bagaimana memposisikan cinta kepada pasangannya tanpa sedikitpun mengurangi cinta kepada Allah bahkan semakin menambah cinta kepadaNya adalah pekerjaan yang menyenangkan. Jangan sampai posisi Allah dihati tergeser atau tergantikan dengan posisi pasangan, hmm semua itu butuh latihan dan usaha tak kenal lelah.

Diketemukan dengan belahan jiwa dan teman mengarungi kehidupan, tentu hal yang didambakan semua orang. Ketika cinta dengan lawan jenis menjadi halal bahkan berpahala itulah indahnya pernikahan, namun tak sedikit pasangan yang terbuai dengan kenikmatan cinta kepada pasangannya. Sehingga cinta kepada Sang pemberi cinta luntur dari hari ke hari, sungguh merugilah. Ibadahnya menurun, aktifitas penuh kebaikan berkurang atau terlalu melarang pasangannya untuk aktif ini itu. Hey, sadar donk! pasangan itu hanya patner. Teman, ingatlah! dia bukan milikmu, dia milikNya. Tak pantaslah mengekang potensinya.

Membangun rumah tangga berlandaskan cintaNya, saling mengingatkan ketaqwaan kepadaNya dan saling menegur karena ada ibadah yang kendur, karena rumah tangga adalah sekolah kehidupan di sepanjang usia kami.

Sahabat, kita akan bertemu dengan pasangan kita yang tidak sempurna, tapi kita akan belajar mencintainya dengan sempurna.

Alhamdulillah akhirnya menulis lagi setelah moment penting dalam hidup kami,, ploong rasanya kembali menuliskan sesuatu. Happy reading kawan 🙂 Merasakan sakinah setelah menikah memang benar kata Rasulullah bahwa keluarga itu syurga dunia 🙂

Semoga bermanfaat “Cinta tak akan berarti apa-apa ketika tak membawa cintaNya” 🙂