Karena kita salah memahami keinginan Ibu yang sederhana

Dalam hadist nabi menyebutkan bahwa “Surga dibawah telapak kaki ibu” dan berbakti kita kepada ibu tiga kali baru kepada Ayah. Ini menunjukkan betapa luar biasa peran seorang  ibu dalam melahirkan dan mendidik anak-anaknya. Bahkan setetas air susu ibu yang kita minum tak bisa kita balas.

Lalu bagaimana peran berbakti kita kepad ibu?

Pernahkah kita menyadari bahwa dalam perjalanan hidup ini, sering salah memahami keinginan Ibu yang begitu sederhana?, misal : keinginannya untuk ditelfon seminggu sekali, sesekali pulang, dll.

mungkin karena begitu sederhana, sering kita menghiraukannya, dengan berbagai alasan yang kita sampaikan, entah lagi sibuk dengan kerjaan, jarak yang jauh, deell alasan lain yang sudah kita siapkan. Seorang ibu tetaplah ibu, dia tidak akan pernah meminta hal yang berat, dan bahkan tak ingin memberatkan anaknya. 

Mari kita renungkan kembali, sudah berapa usia Anda sekarang? sudah berapa banyak kita membuat Ibu tersenyum bahagia? ataukah sudah berapa kali kita membuatnya menitikan air mata, gundah dan bersedih? berapa lama lagi kira-kira usia ibu kita?

yahh…ternyata kita jauh lebih banyak membuatnya bersedih dalam diam, menitikkan air mata dalam sepi hanya karena kita tak bisa memahami keinginannya yang sederhana. 

 

Ada sebuah kisah, seorang anak yang memiliki cita-cita untuk berkeliling dunia, dia bersikeras untuk mewujudkan keingiannya itu. berbagai usaha dia coba, mengikuti berbagai karya ilmiah, mengikuti berbagai perlombaan dll. Namun ibunya yang sederhana menginginkan anaknya untuk bekerja saja, karena beigtu sederhana keinginannya sang anak menganggap itu permintaan yang bisa ditangguhkan. 

HIngga pada suatu hari, sang anak tersebut tak kunjung bisa berkeliling dunia, padahal semua usaha telah dicobanya. Dalam kesendiran dia menangis, menangis karena usahanya sia-sia. Dalam kesedihan dan keputusa asaan, dia teringat wajah ibu, dia teringat keinginan ibunya yang sederhana. 

Seketika itu juga air mata membanjiri wajahnya, betapa selama ini dia tidak menyadari bahwa telah durhaka kepada Ibunya. Ibunya yang talah 30 tahun merawatnya, bahkan rela mengorbankan keinginan dan cita-cita pribadinya hanya untuk membesarkannya. Kini dia telah dewasa, ibunya hanya meminta 1 hal sederhana namun dia tak ingin mewujudkan karena memiliki keinginan lainnya. Betapa dia menyadari telah keegoisan dalam dirinya, bahwa mewujudkan keinginan Ibu adalah sebuah pekerjaan yang mulia.

 

sahabat kisah ini mengajarkan kepada kita, bahwa terkadang kita sering salah memahami keinginan ibu yang sederhana. Mungkin kita belum merasakan menjadi orang tua, sehingga kita tak mampu memahami perasaannya. Dalam perjuangannya membesarkan kita, begitu banyak Ibu mengorbankan keinginan pribadinya agar kita bisa tumbuh dengan sempurna. Maka selagi Ibu masih bernafas, maka penuhilah keinginaannya selama itu tidak menyalahi syariat. Letakkanlah ambisi pribadimu dan utamakanlah keinginannya, sebagaimana dulu Ibu meletakan keinginan pribadinya demi memenuhi keinginan kita. Jika suatu saat, kita menjadi orang tua maka kita harus berlapang dada karena akan banyak keinginan pribadi kita yang akan kita lepaskan dan akan kita utamakan segala hal untuk menjadikan buaah hati kita tumbuh dewasa dan memberikan banyak manfaat. 

 

Kenapa sich milih MBA?

Kuliah pagi ini dibuka dengan pertanyaan sederhana namun jawabannya butuh meditasi😀

 

Pertanyaan yang disampaikan oleh Pak Hadi dulunya dekan IPMI  (http://ipmi.ac.id/)sekarang sedang mengajar sebagai dosen di MBA ITB.

 

Berbagai jawaban muncul berbeda-beda dari teman-teman sekelas saya, diantaranya :

1. Karena bos-bos sukses kuliahnya di MBA , oleh Pak Hadi dijawab “apa sih sebenarnya makna ikhlas? kalau ukurannya dunia, maka itu hanya akan berlangsung singkat, namun seiring berjalannya waktu kalian akan belajar tujuan dan motivasi bukan hanya bersifat keduniaan”

 

2. Saya sendiri menjawab karena panggilan hati (yelah :D), karena dulu tingkat pertama saya sudah memiliki cita-cita kuliah s2 nya di MBA, pengennya di Univ Tokyo tapi ga kesampaian, malah jodohnya ke ITB😀. Berdasarkan pencarian jati diri nanti kedepannya saya mau menjadi apa? dimulai dari ikut talents mapping, foto aura dan berbagai event tentang explorasi diri. Dan saya memiliki keinginan membuka usaha. Mau tau apa jawabannya pak Hadi?.

“Ya, karena ingin memiliki usaha maka MBA ini bisa jadi pilihan yang tepat”.

Lalu pertanyaan berlanjut lagi, kenapa sich memilih di ITB? bebrapa teman saya menjawab

1. Karena dijakarta macet

2. Karena ITB itu sebuah mantra yang bisa membuka pintu😀 hehehe, karena kalau lulusan ITB seperti mudah untuk mengakses resource

3. Networking, banyak lulusan ITB adalah orang yang berkualitas dan ITB itu identik dengan lulusannya yang cerdas.

4. Balas dendam, karena ketika s1 tidak bisa masuk ke ITB, jadi dech S2 nya ke ITB, selain itu mau membandingkan kualitas lulusan dengan ayahnya yang ternyata lulusan kelas eksekutif di IPMI.

Saya baru tau bahwa ada IPMI yang ketika saya googling masuk ke websitenya, wow ternyata sistem edukasinya top dah😀

Monggo yang mau melanjutkan kuliah lagi, silhakan dipilih jurusan dan universitas tujuannya. Kenapa memilih jurusan itu? dan kenapa harus di kampus tersebut ?

Personal Knowledge Management

Sedikit share tentang PKM, hasil kuliah singkat dengan pak Haitan di MBA ITB #Promosi🙂

Setiap bisa jadi sudah melakukan PKM, namun tidak menyadarinya dan bisa jadi kurang statistika. Terkadang kita binggung ingin memilih mau fokus dalam bidang apa? contohnya: misalkan saya mau fokus di marketing, maka carilah buku marketing terbaik, lalu kita susun, buat hierarkinya dalam mind map, nah dari mind map ini kita bisa melihat bidang apa yang mau kita perdalam dan fokus. That’s simple but not simple😀. 

 

Saya juga membuat mindmap setelah menikah bersama suami, agar tau arah-rah tujuan rumah tangga kami mau di bawa kemana🙂 Segede A2 dan di tempel di dinding agar kami selalu ingat kemana arah kemudi dijalankan.

Untuk mempermudah membuat mindMap saya sarankan untuk menginstall program Xmind yang bisa di dapatkan searching di mbah google. 

 

Kuliah S2 ini harus kuat pemahaman😀, karena setiap dosen memiliki pola pikir yang berbeda-beda but it’s fun and enjoy. 

Sukses Terbesar Dalam Hidupku(LPDP)

 Salah satu syarat dokumen pandaftaran yang perlu disertakan ketika mendaftar ke LPDP, butuh waktu yang lama bagi saya untuk bisa menuliskan nya. Semoga bermanfaat🙂

 

Kesuksesan terbesar dalam hidupku?

Sebenarnya sudah lama saya memasukkuan semua data untuk kelengkapan LPDP namun dibagian essai saya terhenti sejenak. Saya berhenti sejenak untuk kemudian melangkahkan kembali jemari merangkai kata menjadi sebuah essai. Sebuah essai yang menceritakan kesuksesan terbesar dalam hidupku.

Perjuangan yang sangat indah, karena  essai “sukses terbesar dalam hidupku” dari LPDP membuat saya berfikir ulang tentang hidup ini, bahasa kerennya re-engineering atau bahkan re-design hidup. Saya sangat berterimakasih dengan LPDP, dengan adanya essai ini saya terasa bercermin untuk bertanya kepada diri saya sendiri. “Apakah kriteria kesuksesan yang  selama ini saya pegang?”, “Apakah  kesuksesan sesungguhnya?”, renungku. Selama ini, parameter kesuksesan yang saya pegang  yaitu berupa hasil prestasi nyata ataupun suatu karya yang diapresiasi oleh banyak orang.

Saya akan coba bercerita saat saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Ketika saya SMA, pernah mengikuti lomba putra putri PKPP –lomba kepramukaan se-Kota Solo-. Saya mempunyai seorang pelatih. Beliaulah yang kemudian memperbaiki cara berfikir saya agar saya menjadi pribadi yang lebih baik. Masih teringat dengan jelas kata-kata beliau, “Isti, cobalah untuk berfikir sederhana, jangan terlalu jauh dahulu!”,”Lihatlah dengan dekat apa yang bisa kamu lakukan!”. Semenjak saat itu, saya menyadari bahwa benar apa yang beliau katakan.

Kemudian, pengalaman saya berlanjut pada sebuah kejadian di acara training kepempimpinan level 2 Kesaktuan Aksi Mahasiswa Muslim Imdonesia (KAMMI) Daerah BANDUNG. Saat itu, saya merupakan salah seorang dari 3 orang perwakilan daerah Bandung yang dikirim ke Cirebon untuk mengkuti pelatihan kepemimpinan di Cirebon. Di latihan kepemimpinan level dua ini, kami, peserta dibiasakan untuk menyampaikan makalah yang  sudah dibuat sebelumnya sebagai syarat pendaftaran peserta.  Beberapa orang dengan tema makalah yang sama, diminta untuk maju mempresentasikan makalahnya. Saya salah satu dari pihak perempuan yang berkesempatan menyampaikan hasil pemikiran saya, makalah. Peserta lainnya mencermati dengan seksama isi makalah yang saya sampaikan, hingga sampailah pada sesi tanya jawab. Pada saat sesi itulah, ada peserta lain yang menyampikan pendapatnya mengenai solusi untuk masalah di Indonesia. Sebuah ungkapan sederhana namun bagi saya sungguh sarat makna yaitu, “Boleh melangit, tetapi kaki tetap membumi”. Setelah mendengar kata-kata itu dan merefleksikan dengan keadaan diri saya. Saat itu saya menjadi tersadar bahwa saya selama ini masih cenderung melangit tapi kurang membumi. Maka, kemudian saya menjadi berfikir lebih realistis terhadap berbagai tawaran ideal yang ada.

Semenjak saat itu saya terus mencari parameter kesuksesan dalam diri saya, hingga beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang teman dari daerah lain. Dia mengatakan bahwa sukses itu sangat sederhana maknanya, cukup cari saja apa kekurangan dalam dirimu, itu adalah landasan keberhasilanmu. Saya terkesan dengan pribadinya yang sederhana, itu terungkap dari caranya memandang hidup ini, sangat sederhana dan simple. Ini yang saya cari selama ini, karena saya terkadang berfikir kurang realistis, itu penilaian beberapa orang kepada saya.

Dari hal tersebut, makna sukses sebenarnya bagi saya, bukan tentang sebuah prestasi, bukan pula tentang uang ataupun tentang pengakuan orang lain. Sukses menurut saya adalah ketika saya bisa berbuat benar untuk orang lain. Dan sukses terbesar dalam hidupku ketika apa yang saya ucapkan juga saya lakukan.

Saya selalu terkesan dengan orang yang konsisten antara ucapan dengan perbuatannya. Bagi  saya hal itu sangat luar biasa, saya menemukan kebahagian tersendiri dalam hati dengan melakukannya. Karena saya takut kalau saya mengucapkan sesuatu tapi saya tidak melakukannya, Allah akan membeci saya. Ibarat tong kosong nyaring bunyinya atau bahasa gaulnya “omdo” –omong doang-.  Karena setiap apa yang saya ucapkan akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat.

Dan pada akhirnya, menikmati kesuksesan terbesar tidak perlu dengan sebuah pengakuan besar atau menunggu momen yang besar, tetapi cukup menjaga antara ucapan dan perbuatan, maka saya selalu merasa sukses disetiap waktu. Bagi saya mengalahkan keinginan diri untuk selalu terlihat hebat lewat lisan itu sebuah kenikmatan. Sehingga saya merasa hidup ini selalu bahagia dan saya sangat bersyukur dengan hal tersebut. Menjaga ucapan dan perbuatan adalah perjuangan luar biasa bagi saya. Inilah perjuangan untuk meraih kesuksesan terbesar dalam hidup saya, konsisten antara ucapan dan perbuatan.

 

 

 

 

Landasan Organisasi : Cinta Kami Berlandaskan CintaNya

Melanjutkan cerita sebelumnya tentang pelantikan “Organisasi Peradaban”. Kali ini kami ingin menyampaikan betapa indahnya dan menentramkan dunia pernikahan yang dibingkai dalam syariatNya serta cintaNya.

Tulisan ini lahir dari kesadaran begitu banyaknya orang yang membina biduk rumah tangga tanpa pemahaman islam, sehingga rumah yang seharusnya menjadi syurga malah berubah menjadi neraka. Semoga Allah menjauhkan kami dari sifat pamer, mengkomporin, menyakiti hati orang lain, maupun menggurui, karena pernikahan kami masih seumur jagung. Hanya sedikit hikmah yang ingin kami sampaikan. Terutama bagi yang sedang merencanakan pernikahan bahkan berbagi dengan yang sudah menikah sekalipun.

Rumah yang menjadi pondasi paling penting untuk bangsa ini menjadi maju dan besar, tetapi ternyata banyak kisah perceraian dan perseteruan bermula dari rumah. Ini menunjukkan tak terbangunnya rasa sakinah, mawaddah dan rahmah sebagai perwujudan rumahku syurgaku. Maka, tak heran, walaupun Indonesia memiliki jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, tapi moral bangsanya carut marut tak karuan, mencoreng keindahan Islam yang mulia. Semoga kita bisa bersama sama memperbaiki kondisi ini.

Merencanakan pernikahan dan impian  keluarga yang akan dibangun nantinya bukan muncul dalam hitungan sekejab. Ini visi jangka panjang hingga ke akhirat kelak, maka persiapannya pun tak bisa sembarangan. Butuh persiapan secara matang, baik secara pemahaman, mental, finansial dan urgensinya. Dan dibutuhkan pula sikap mau belajar, mau memperbaiki diri. Ini pun salah satu kuncinya. Bayangkan, sisa hidup kita akan dihabiskan dengan orang seperti apa? Bayangkan juga, dalam situasi dan kondisi seperti apa kita akan hidup nantinya? Kita harus persiapkan dengan segala kemungkinannya. Ini asyiknya! Seberapa jauh kita akan berikhtiar, tawakkal, berdo’a akan hal yang telah Allah tuliskan di Lauhul Mahfudz.

Yahh mungkin ini yang membuat beberapa orang takut melangkah untuk menikah walaupun sebenarnya sudah mampu, takut dengan siapa kita akan menjalani sisa hidup kita.  Kamudian, karena tak memahaminya, melampiaskan dengan cara yang menodai kesucian pernikahan itu yaitu dengan pacaran. Ya iyalah ! Bagaimana mau meraih sakinah mawaddah dan rahmah, kalau cara dari awal untuk menggapainya sudah dipenuhi dengan dosa. Wajarlah ketika menikah akan banyak perselisihan.

Hal yang paling penting untuk ditanamkan dan dipegang adalah, sebenarnya untuk apa menikah? hanya untuk menjaga diri? menyempurnakan setengah agama? itu tidak salah, tapi menurut saya dan suami ada yang lebih tinggi lagi. Kami sepakat bahwa menikah adalah perkara ibadah kepada Allah. “Meletakkan Allah di atas segalanya dan bersedia memurnikan segala sesuatu untuk Allah” menjadi landasan kami menjalankan perahu di lautan kehidupan. Bukan pekerjaan yang mudah, namun bukan pekerjaan yang tidak mungkin juga. Ini pekerjaan yang menantang!

Tentu saja menantang, ketika masih single melakukan sesuatu untuk Allah itu sesuatu yang lebih mudah, karena hatinya belum terisi dengan yang lainnya. But! setelah menikah itu berbeda lagi, bagaimana memposisikan cinta kepada pasangannya tanpa sedikitpun mengurangi cinta kepada Allah bahkan semakin menambah cinta kepadaNya adalah pekerjaan yang menyenangkan. Jangan sampai posisi Allah dihati tergeser atau tergantikan dengan posisi pasangan, hmm semua itu butuh latihan dan usaha tak kenal lelah.

Diketemukan dengan belahan jiwa dan teman mengarungi kehidupan, tentu hal yang didambakan semua orang. Ketika cinta dengan lawan jenis menjadi halal bahkan berpahala itulah indahnya pernikahan, namun tak sedikit pasangan yang terbuai dengan kenikmatan cinta kepada pasangannya. Sehingga cinta kepada Sang pemberi cinta luntur dari hari ke hari, sungguh merugilah. Ibadahnya menurun, aktifitas penuh kebaikan berkurang atau terlalu melarang pasangannya untuk aktif ini itu. Hey, sadar donk! pasangan itu hanya patner. Teman, ingatlah! dia bukan milikmu, dia milikNya. Tak pantaslah mengekang potensinya.

Membangun rumah tangga berlandaskan cintaNya, saling mengingatkan ketaqwaan kepadaNya dan saling menegur karena ada ibadah yang kendur, karena rumah tangga adalah sekolah kehidupan di sepanjang usia kami.

Sahabat, kita akan bertemu dengan pasangan kita yang tidak sempurna, tapi kita akan belajar mencintainya dengan sempurna.

Alhamdulillah akhirnya menulis lagi setelah moment penting dalam hidup kami,, ploong rasanya kembali menuliskan sesuatu. Happy reading kawan🙂 Merasakan sakinah setelah menikah memang benar kata Rasulullah bahwa keluarga itu syurga dunia🙂

Semoga bermanfaat “Cinta tak akan berarti apa-apa ketika tak membawa cintaNya”🙂

Pernikahanku: Upacara Pelantikan Kepengurusan “Organisasi Peradaban”

Gambar

Judulnya cukup mengundang pertanyaan sepertinya. Ada frasa yang jarang kita dengar. Organisasi Peradaban. Ya…tepatnya hari Sabtu 13 April 2013 pukul 09.00 telah diresmikan organisasi baru, dengan masa jabatan seumur hidup dan tanpa open rekruitasi. Organisasi yang menjadi babak baru kehidupan dua insan manusia, saya dan suami.

Ya,,organisasi peradaban, kata-kata ini kami pilih untuk memproklamirkan kuasa Allah dalam menjodohkan kami berdua.

“Saat dua hati berjanji, tuk arungi hidup dijalanNya.

Allah kan berkahi mereka kala dalam doa, kala dalam asa.”

(Seismic, Ketika Dua Hati Menyatu)

Butuh waktu bagi saya untuk bisa menuliskan dan menyampaikan kisah ini. Banyak hikmah yang Allah titipkan sehingga menjadi amanah bagi kami untuk menyampaikan kembali kepada saudaraku di manapun berada.

Menikah merupakan setengah dari agama, sungguh besar porsinya dalam agama Islam.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,  ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi)

Secara umum, dua hal yang dapat merusak agama kita, kemaluan dan perut. Kemaluan yang mengantarkan pada zina, sedangkan perut bersifat serakah. Dan ketika menikah, kita telah menjaga diri dari salah satunya, yaitu kemaluan kita. Setengah agama kita telah terjaga, tinggal sisanya.

Menikah membutuhkan persiapan yang panjang. Mempersiapkan diri sebaik-baiknya dari jauh-jauh tahun bisa menjadi awal yang sangat bagus. Karena menikah bukan keputusan sesaat dan bukan untuk keinginan sementara. Menikah untuk beribadah padaNya, menikah untuk bertemu kembali di syurgaNya, menikah untuk menggabungkan dua keluarga besar yang berbeda, dan menikah untuk membangun Organisasi Peradaban. Maka selagi masih ada waktu, mari kita banyak-banyak belajar tentang Islam dan belajar melatih diri memiliki akhlaq yang indah. Yaa.. ini muncul dari membaca beberapa buku dan berbincang-bincang dengan beberapa orang.

Ah pasti sudah tak sabar mau tau ceritanya ya? baiklah baiklah mari kita mulai mengikuti kisahnya dengan membaca basmallah. Bismillahirrahmaanirrahiim.

***

Saya mulai dari awal kami berproses. Proses yang cukup singkat, sekitar 4 pekan sejak awal menerima biodata suami hingga proses akad nikah. “Wah! Cepet bener Mbak!” Yups, dan kami pun hampir tak percaya dengan durasi yang telah Allah tetapkan ini. Kata suami,” Sangat terasa sekali, Tangan Allah sangat dekat dalam skenario ini!”

Mekanisme ini merupakan hal baru di keluarga kami berdua, karena kami menikah tanpa diawali pacaran sebelumnya dan dalam tempo yang singkat. Ya, tanpa pacaran! Jangankan pacaran, sebelumnya, saya kenal ikhwannya pun tidak. Alhamdulillah, Allah menjaga kami. “Bisa juga ternyata ya!”, gumam saya terheran heran.

“Trus Mbak, orang tua nrima gitu aja? Masak sih sesimpel itu? Emang ga ada perdebatan dengan orang tua ya?” Alhamdulillah kami dari jauh-jauh tahun sudah mensosialisasikan ke orang tua masing masing perihal proses menikah yang syar’i. Jadi, ketika tiba waktunya tak ada halangan yang memberatkan dari keluarga.

Salah satu bentuk ikhtiar saya yang lain adalah dengan berdo’a. Sebuah doa yang selalu saya panjatkan disetiap sholat wajib, sholat hajat, sholat tahajud dan sholat dhuha, “Ya Allah berikanlah jodoh yang baik agamanya, baik dunianya, baik akhiratnya yang mencintai dakwah ini dan mencintai Engkau”, hanya optimislah yang membuat saya bertahan untuk terus memohon seperti ini. Karena saya berfikir menikah itu harus memperbesar manfaat ke lingkungan masyarakat dan membawa visi menghujam sampai ke akhirat.

Mundur sebentar ya…🙂 Awal tahun 2013 sebenarnya bisa dibilang saya sudah pasrah dan tak terlalu berharap bisa menikah tahun ini, maka saya sibukkan diri dengan mempersiapkan kuliah S2 ke Malaysia. Lebih baik menyalurkan energi ke hal positif yang jauh lebih bermanfaat dan saya tenggelam dalam kesibukan mempersiapkan segala dokumen kuliah. Namun ternyata Allah berkehendak lain, di saat sibuk ngurus passport ternyata ada kabar dari murabbi, “Istiqq…ada ikhwan yang nerima proposal, gimana?” Saya pun kaget mendengar kabar dari murabbi.

Point 1: Saya sangat ingin menjalankan proses pernikahan yang terjaga dan sesuai syari’at. Saya percayakan prosesnya kepada murobbi-guru ngaji- saya. Dan peran fasilitator tersebut bukan peran yang mudah, saya sangat yakin, murabbi saya sudah melakukan ikhtiar yang maksimal dalam memilihkan ikhwan yang akan berproses dengan saya. Dan tak ada peran peran syar’i yang murabbi saya gantikan dalam proses ini, seperti yang beberapa orang khawatirkan. Kenapa sih harus lewat murabbi? Murabbi kok kayak wali aja?, dll. Karena murabbi membantu menjaga prosesnya agar tetap syar’i. Dan saya sangat terbantu dengan itu.🙂

***

[sebelum mendapat info dari Murabbi] Sempat menyerah dengan kriteria yang saya buat, dalam hati menyeletuk “apa ada ikhwan seperti yang ku minta?” akhirnya saya coba turunkan kriteria saya, asal beliau tarbiyah dan memiliki ma’isyah serta berani menghadapi orang tua maka tak ada alasan menolaknya. Udah menurunkan standar tapi belum juga datang. Ya, pasrah itulah jalan terbaik.

Hari itu tanggal 13 Maret 2013. Sekitar habis dhuhur saya dapat info, bahwa ada ikhwan yang menerima proposal saya,  maka sorenya sekitar jam 17 baru saya buka biodata sang ikhwan. Kaget, karena tak kenal dengan ikhwan di biodata tersebut. Walaupuan kami satu kampus tapi seingat saya belum pernah berinteraksi dengan beliau. Atau mungkin karena karakter saya yang cuek dengan ikhwan, membuat lupa kalau pernah berinteraksi dengan beliau. “Emang ada ya ikhwan namanya WNS di kampus?”, sempat saya nyletuk seperti itu.

Ternyata suami pun demikian. Pasca akad, beliau sampaikan kalo beliau belum mengenal saya sebelumnya. “Ketemu sih pernah, tapi nggak sampe mengenal. Sebatas tau, ada nama Istiqomah Nur Latifah di kampus IT Telkom. Mungkin ini cara Allah menjaga prosesnya.” Kata suami.

Singkat cerita, akhirnya dipilihlah tanggal 13 April 2013, hari Sabtu, sebagai hari bersejarah dalam hidup saya. Ya, pada tanggal itu kami melangsungkan akad. Tepat sebulan setelah kami saling bertukar biodata. Dan, mengapa hari itu sebagai hari bersejarah buat saya? Karena pada hari itu, saya yang tadinya serba bebas, setelah diucapkannya janji,  masuklah seorang ikhwan yang punya hak mutlak untuk ‘menginterfensi’ hidup saya. Kami terikat dalam janji yang suci, dalam mitsaqan ghaliza. Pada hari itu pula, hari Sabtu adalah hari dimana saya dilahirkan ke dunia tepat jam 09.00. #Hmmm…speechless

“Trus, gmana dengan keluarga Mbak?” Seperti yang sudah saya sampaikan di atas, alhamdulillah, kalo dari sisi suami, sudah menjelaskan sebelumnya tentang proses pernikahan yang syar’i kepada keluarganya. Dan, orang tua suami cukup kaget, kenapa secepat ini. Kalau dari keluarga saya malah berharap dipercepat karena kalau sudah cocok untuk apa di lama-lama malah menimbulkan banyak mudharatnya. Alhamdulillah semuanya diperlancar, disertai dengan penjelasan penjelasan ke orang tua.

Point 2: Mulai merancang pernikahan dan komunikasikan budaya menikah yang sesuai syari’at Islam kepada keluarga jauh-jauh hari.

***

Setalah akad, saya masih kaku. Ya, sekali lagi karena tiba-tiba ada seseorang yang dulunya bukan siapa-siapa sekarang memiliki hak atas hidupku. Alhamdulillah, dengan singkat, sikap kaku pun berangsur berganti dengan santai. Hebat ya! Rasanya, Allah melakukan training langsung kepada kami, agar kami bisa langsung nyambung. Saat itu, saya teringat pesan seorang teman, “Salah satu bentuk syukur telah dinikahkan oleh Allah adalah dengan secepat mungkin merubah sikap dengan seseorang yang sudah halal untuk kita.”

Alhamdulillah, setelah acara makan-makan sederhana di rumah, kami semakin akrab saja. Mungkin karna pembawaan karakter kami, jadi baru beberapa jam mengenalnya seolah kami sudah sangat kenal dalam waktu lama. Sungguh besar kuasa Allah.

Point 3: Allah yang punya skenario. Allah yang memiliki setiap detail hidup manusia. Dalam pengalaman saya ini, saya tidak mengenal ikhwan yang saya nikahi sebelumnya. Dan Allah lah yang mempermudah proses perkenalan kami pasca akad. Begitu singkat. Kemudian kami pun mampu saling membaur, satu sama lain. Bercanda ringan, hampir tidak ada ke-garing-an saat itu, semuanya renyah! Alhamdulillah.

***

Kehidupan setelah menikah ternyata jauh lebih indah, menenangkan dan menentramkan. Banyak mimpi yang kami rajut bersama, menyadari bahwa semuanya butuh bahan bakar untuk menjalankan. Maka kami punya kesepakatan amalan yaumi tentang tilawah, al ma’tsurat, tahajud, dhuha, baca buku, hafalan tentu dilengkapin iqob kalau ada yang tak sesuai target.🙂

Nikmatnya pacaran setelah menikah memberikan banyak keberkahan dan kebarakahan dalam kehidupan kami. Kami pun tak melewatkan momen ini, pacaran yang bernilai ibadah adalah pacaran setelah menikah dengan pasangan yang telah Allah halalkan buat kita. Alhamdulillah Allah memberikan lebih dari yang kami minta terkait pasangan.

Inilah keluarga kecil kami, inilah organisasi peradaban kami, yang menitipkan harapan besar kepada sang Maha Besar.

“Ini bukanlah persiapan dan cita-cita biasa, kalau hanya untuk memenuhi setengahnya itu masih terlalu kecil. Maka seharusnya persiapan dan cita-citamu jauh lebih melambung yaitu demi Dia yang selalu memberikan cintaNya walaupun kita sering melupakannya”

Semoga bisa menjadi hikmah dan inspirasi bagi yang membacanya, dan kami akan sangat senang jika pembaca ikut mendo’akan suksesnya organisasi yang akan kami jalankan. Mohon maaf jika sebelumnya ada ucapan, kata-kata dan perilaku kami yang kurang berkenan di hati pembaca.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Q.S. Ar Ruum: 21)

 

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. An Nuur: 32)

 

“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Q.S. Ath Thalaaq: 2-3)